Warga Jakarta menantikan diadakannya Asian Games 2018 pada bulan Agustus sampai September nanti dengan sedikit kegentaran membayangkan dampak apa yang dapat terjadi dari datangnya begitu banyak atlet serta fans dari seluruh penjuru Indonesia dan Asia terhadap infrastruktur transportasi di ibukota yang bahkan sudah dikenal cukup kewalahan menangani padatnya penduduk Jakarta sendiri.

Lima minggu setelah itu, masalah yang sama pun akan dihadapi Bali saat sekitar 17,500 delegasi dari seluruh penjuru dunia dijadwalkan datang ke pulau wisata tersebut untuk menghadiri pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) yang tentunya membutuhkan keamanan yang ekstra ketat.

Keduanya secara teori bisa menjadi potensi untuk meningkatkan citra Presiden Joko Widodo sebelum pemilu presiden dan anggota legislatif yang akan diadakan secara serempak pada bulan April 2019, dimana Jokowi akan berusaha untuk memenangkan kursi kepresidenan periode ke-2. Namun keduanya juga dapat memberikan efek yang sebaliknya apabila kedua acara tersebut tidak berjalan dengan baik oleh karena kemacetan ataupun karena perencanaan yang buruk.

Sekalipun Asian Games ke-18, yang akan diadakan dari tanggal 18 Agustus-2 September, ini akan dibagi di dua tempat, yaitu dengan Palembang, ibukota Sumatra Selatan, kebanyakan dari jumlah total 40 cabang olahraga yang diperlombakan tetap akan diadakan di Kompleks Gelanggang Olahraga Gelora Bung Karno, yang terletak secara nyaman – atau mungkin malah tidak nyaman – ditengah-tengah kota Jakarta.

Menggunakan nama mendiang presiden RI pertama Sukarno, kompleks olahraga ini dibangun untuk acara Asian Games 1962, pada saat kota tersebut dalam keadaan yang jauh berbeda, dengan jarangnya mobil dan motor, dibandingkan dengan sekarang, dimana sekitar 3.5 juta penduduk kota Jakarta setiap harinya harus melalui kemacetan ibukota untuk menyelesaikan berbagai macam urusan sehari-hari mereka.

FILE PHOTO - Vehicles are caught in a traffic jam in Jakarta February 6, 2013.    REUTERS/Beawiharta/File Photo
Vehicles caught in a traffic jam in Jakarta. Photo: Reuters/Beawiharta/File Photo

Pada awal tahun 60-an juga merupakan era yang berbeda. Fasilitas-fasilitas yang ada di kota tersebut saat itu dibangun dengan pinjaman dana dari Uni Soviet sebesar US$12.5 juta.

Sekarang, Kompleks Gelora Bung Karno sudah termasuk Stadion Nasional berkapasitas 76,000 yang telah diperbaharui untuk digunakan sebagai tempat acara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018, serta sebuah pusat olah raga air, lapangan tenis, lapangan basket dan bukutangkis dalam ruangan, lapangan hoki, lapangan bisbol dan lapangan sepakbola.

Walaupun tempat ini mungkin merupakan lokasi yang ideal empat dekade yang lalu, acara Asiad ke-18 tampaknya akan digelar disebuah tempat dimana Jakarta masih menyerupai sebuah situs konstruksi raksasa oleh karena pemerintah ibukota masih mengerjakan pembangunan Angkutan Cepat Terpadu (MRT) dan Angkutan Cepat Dengan Kereta Api Ringan (LRT), serta jalan-jalan layang.

Original: Indonesia struggles to be a world class host