Untuk jangka waktu yang lama selama 36 jam kerusuhan di Mako Brimob minggu lalu, para militan pelaku kerusuhan tersebut didapati memiliki sejumlah besar senjata otomatis dan ribuan persediaan peluru.

Menurut sumber yang akrab dengan apa yang terjadi, satu-satunya alasan pengepungan tidak berubah menjadi pertempuran senjata dengan polisi adalah bahwa para pemimpin pemberontakan kehilangan kontak dengan tiga koordinator di luar penjara, yang hanya dikenal sebagai Deden, Ronggo dan Ilham.

Siapa mereka dan apa yang direncanakan masih belum jelas sampai saat ini, tapi kemungkinan besar mereka merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), sebuah organisasi paham radikal yang berafiliasi dengan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam (ISIS) dan yang bertanggung jawab atas kerusuhan berikutnya di Indonesia.

Kerusuhan yang dimaksud yaitu pengeboman berentet di Surabaya yang berakhir dengan tewasnya 13 pelaku bom bunuh diri dan 12 warga sipil hari Minggu yang lalu.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan ada sedikit keraguan bahwa peristiwa di Surabaya dan Jakarta berhubungan satu dengan lainnya, menandakan munculnya organisasi berbasis sel yang mungkin lebih berbahaya daripada jaringan Jemaah Islamiyah yang terkait dengan Al Qaeda dan yang meneror negara tersebut pada awal tahun 2000-an.

Beberapa hari kemudian, Kepolisian Indonesia kehilangan seorang anggotanya saat menghadapi empat teroris yang dengan menggunakan senjata tajam menyerang Mabes Polda Riau pada tanggal 16 Mei.

Apabila ada keraguan yang ditinggalkan setelah lima bulan teror di kota Marawi, Filipin tahun lalu, beberapa aksi teror di Indonesia baru-baru ini menunjukkan bahwa, sekalipun mungkin Khilafah ISIS sendiri telah dihancurkan secara efektif, jangkauan dan pengaruhnya di Asia Tenggara belum berakhir.

Original: Indonesia is Islamic State’s new frontline