Ledakan bom bunuh diri yang terjadi pada tiga gereja di Surabaya dan dilakukan oleh satu keluarga yang baru saja kembali dari Syria, termasuk seorang ibu dan dua anak perempuannya yang masih berusia sangat muda, telah menimbulkan kecemasan akan adanya beberapa serangan susulan selama bulan Ramadhan, disertai dengan tekanan dari masyarakat untuk pemerintah memperkeras undang-undang anti terorisme di Indonesia.

Delapan warga sipil dan enam pelaku bom bunuh diri tewas sementara 41 lainnya mengalami luka-luka didalam tiga pemboman gereja yang terjadi pada Minggu pagi, hanya empat hari setelah narapidana teroris menggorok mati lima polisi dalam kerusuhan Mako Brimob di Depok, Jawa Barat.

Polisi mengatakan korban ke-15 tewas dalam ledakan susulan di sebuah rumah susun di Sidoarjo pada Minggu malam. Di hari yang sama unit elit kepolisian anti teroris, Densus 88, juga menembak mati empat tersangka teroris dalam sebuah tembak-menembak yang terjadi di terminal bus Cianjur, Jakarta Selatan.

Ledakan lain terjadi sekitar pukul 9 pagi pada hari Senin saat dua tersangka teroris dengan berkendaraan motor meledakan diri mereka di Polrestabes Surabaya. Seorang polisi dan kedua pelaku bom bunuh diri tewas dalam ledakan ini.

Didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Jendtral TNI Purnawirawan Wiranto, Perwira Tinggi TNI Angkatan Udara Marsekal Hadi Tjahjanto, serta Kapolri Tito Karnavian, Presiden Joko Widodo dalam amarahnya mengatakan, “Saya telah memerintahkan adanya investigasi terhadap jaringan teroris ini sampai kepada akarnya.”

Menurut laporan yang ada, para pelaku bom bunuh diri tersebut adalah satu keluarga dari seseorang yang bernama Dita Priyanto, kepala dari sebuah sel jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD), sebuah organisasi yang dinaungi oleh beberapa kelompok Islam radikal di Indonesia yang mendukung kelompok Negara Islam (ISIS).

Menerima laporan mengenai pemboman sesampainya di Surabaya, dengan wajah suram Presiden Joko Widodo terlihat menggelengkan kepala, seakan-akan mantan walikota Solo tersebut tidak mengerti mengapa dua orang tua tersebut begitu tega mengorbankan anak-anak mereka dengan cara demikian.

Menurut polisi, Priyanto pertama-tama menurunkan istri dan dua anak perempuannya, usia sembilan dan 12 tahun, di Gereja Kristen Indonesia di tengah kota Surabaya, dimana beberapa menit kemudian sang ibu meledakkan bom yang melekat pada tubuhnya.

Sang ayah kemudian mengendarai mobilnya menuju Gereja Pantekosta Pusat Surabaya dan meledakkan diri setelah menabrakkan mobil van yang dikendarainya ke pintu gerbang gereja tersebut.

Sementara itu, rekaman CCTV menunjukkan bahwa ledakan pertama dilakukan oleh dua anak remaja laki-laki priyanto yang, dengan mengendarai sepeda motor, meledakkan diri di pintu gerbang Gereja Santa Maria Tak Bercela.

President Widodo, center, holds a press conference in Surabaya on Sunday with security minister Wiranto to his right. Photo: AFP/ Presidential Palace handout

Original: Islamic State church bombings rip Indonesia