Dengan masuknya mantan ketua DPR RI Setya Novanto, yang juga mantan ketua partai Golkar, ke dalam penjara selama 15 tahun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun mulai mengalihkan perhatiannya kepada beberapa politikus dan tokoh-tokoh penting lainnya yang diduga terlibat didalam skandal kasus korupsi e-KTP di Indonesia.

Hukuman 15 tahun penjara yang dijatuhkan kepada Novanto pada tanggal 24 April mengakhiri masa persidangan yang telah berjalan selama empat bulan, dimana akhirnya dia didapati terbukti bersalah sebagai tersangka utama dalam kasus proyek kartu identitas elektronik tersebut.

Novanto terbukti bersalah atas korupsi sebesar Rp.300 milyar yang diterimanya dari proyek e-KTP yang memiliki anggaran proyek senilai Rp.5.9 triliun tersebut.

Didalam persidangan juga diketahui bahwa beberapa pengusaha yang terlibat dalam kasus korupsi ini pun sempat menghadiahi Novanto dengan sebuah jam tangan bermerek Richard Mile seharga US$135,000, yang mana dia kenakan dalam kunjungannya ke New York pada tahun 2015, dimana saat itu calon presiden Amerika, Donald Trump, memperkenalkannya kepada para pendukung Trump yang akhirnya menjadi presiden Amerika Serikat ke-45.

Sekalipun mantan anggota parlemen yang sangat berpengaruh tersebut dipercayai sebagai dalang dari kasus penggelapan uang rakyat ini, KPK tidak dapat berhenti sampai disitu, mengingat begitu luasnya lingkaran jaringan partai politik, politikus, pejabat pemerintah serta perusahaan-perusahaan yang diduga kuat telah menerima keuntungan dari kasus korupsi e-KTP ini.

“Dari awal, KPK tidak berencana untuk berhenti sampai pada Setya Novanto,” Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan dan kemudian menambahkan bahwa justru masuknya Novanto ke penjara akan menjadi dasar untuk menyeret lebih banyak lagi pihak-pihak yang terlibat didalam kasus yang diperkirakan akan terus mengguncang dunia politik Indonesia, terutama menjelang pemilu tahun depan.

Dakwaan awal Novanto sempat dibatalkan oleh hakim pengadilan negri dengan alasan hukum yang lemah pada bulan September lalu, namun KPK mengumpulkan bukti baru, termasuk diantaranya sebuah kaset rekaman pembicaraan beberapa orang yang terlibat dalam kasus ini, yang akhirnya memberatkan kasus Novanto.

Bahkan setelah dakwaan, politikus berusia 62 tahun tersebut dilaporkan terus berusaha menghindari penyidik, salah satunya dengan cara melukai dirinya sendiri dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang direncanakan setelah sebelumnya memastikan salah satu staf nya memesan kamar di rumah sakit terdekat.

Original: Many more to fall in Indonesia’s e-KTP scam