Pengadilan Tinggi Singapura Selasa kemarin mengeluarkan sejumlah prinsip umum mengenai kompensasi dan bagaimana peraturan tesebut dapat diterapkan dalam kasus pelecehan pekerja rumah tangga.

Atas dasar peraturan tersebut, sepasang warga negara Singapura telah diperintahkan untuk membayar kompensasi pelecehan pembantu sebesar S$7,800 (US$5,800) kepada seorang pekerja migran Indonesia berusia 33 tahun.

Tay Wee Kiat, 39, dan istrinya Chia Yun Ling yang berusia 41 tahun, pada tahun 2016 didakwa oleh sebuah pengadilan atas tuduhan pelecehan yang mempermalukan dan merendahkan pembantu Indonesianya dari bulan Februari 2011 sampai Desember 2012, surat kabar Singapura Lianhe Zaobao melaporkan.

Dua tahun kemudian, dalam sebuah sidang banding Maret lalu, Tay mendapati masa tahanannya ditambahkan, dari 28 bulan menjadi 43 bulan, sementara masa tahanan istrinya tetap dua bulan.

Pasangan tersebut juga diperintahkan untuk membayar kompensasi dengan jumlah sebesar S$7,800 kepada korban pelecehan.

Pengadilan Tinggi mengeluarkan perintah tambahan mengenai pembayaran kompensasi tersebut pada hari Selasa.

Hakim See Kee Oon – seorang anggota dari panel hakim untuk sidang banding Pengadilan Tinggi bersama-sama dengan Ketua Hakim Sundaresh Menon dan Hakim Banding Tay Yong Kwang – mengerti bahwa tepat untuk korban menerima kompensasi untuk luka fisik dan psikologis yang dilakukan oleh kedua pelaku.

Pengadilan menyetujui untuk setiap kali pelecehan terjadi maka korban harus mendapatkan kompensasi sebesar S$500. Tay yang telah melecehkan pembantunya sebanyak 10 kali harus membayar sebesar S$5,000, sementara istrinya dikenakan sebesar S$1,000.

Sebagai tambahan, pasangan tersebut diwajibkan membayar kepada pembantunya ganti rugi kehilangan empat bulan gaji dengan total sebesar S$1,800, atas dasar pembantu tersebut membutuhkan waktu untuk luka psikologisnya dipulihkan, waktu yang seharusnya bisa dia gunakan untuk bekerja pada majikan yang baru.

Original: Couple who abused maid to pay S$7,800 compensation