Surat perintah penangkapan telah dikeluarkan untuk dua orang pekerja rumah tangga asal Indonesia yang tertangkap bekerja secara ilegal disebuah peternakan anjing yang juga tidak memiliki ijin usaha atau ijin beroperasi yang resmi dan sesuai hukum, didalam sebuah penggerebekan di Yuen Long, New Territories tahun lalu.

Hakim mengeluarkan surat penangkapan setelah kedua tersangka tidak muncul di persidangan kasus terkait tindakan kekejaman terhadap hewan tersebut, yang diadakan pada hari Jumat yang lalu.

Kedua tersangka, Sari La Mariti Narlin dan Yuliani Endang, keduanya berusia 30 tahun, dituduh melakukan tindakan kekejaman terhadap hewan dan menyalahgunakan ijin tinggal mereka yang tidak termasuk ijin untuk bekerja di Hong Kong, saat polisi menggerebek peternakan anjing ilegal yang dimaksud, Harian Oriental melaporkan.

Saat penggerebekan, polisi menemukan sebanyak 101 ekor anjing yang berada dalam kondisi yang sangat buruk didalam tiga kontainer kargo – 33 diantaranya mengalami kekurangan gizi yang cukup serius serta dehidrasi.

Kedua wanita Indonesia tersebut dikenakan tuduhan menolong pemilik peternakan anjing ilegal yang bersangkutan, dan keduanya pun dibebaskan dengan jaminan.

Sementara itu, seorang pria lokal Hong Kong bernama Tse Shui-ping, berusia 61 tahun, dituduh melakukan kecurangan dan membantu pelanggaran kondisi tinggal kedua wanita Indonesia tersebut. Pria ini pun melakukan permohonan penundaan untuk mencari bantuan hukum.

Tse pun telah dibebaskan dengan jaminan sementara menunggu persidangan kasusnya yang dijadwalkan pada tanggal 11 Mei.

Original: Warrants issued for maids who worked at illegal dog farm