Diberkati dengan jumlah batu bara yang berlimpah, cadangan gas alam yang sangat besar dan simpanan energi panas bumi yang kaya serta energi terbarukan lainnya yang ramah iklim, seringnya pembicaraan Indonesia selama bertahun-tahun tentang menuju era nuklir selama ini selalu tampak kurang meyakinkan.

Yang menjadi perhatian banyak orang di Indonesia bukan hanya ancaman terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir oleh karena gempa bumi dan tsunami di negara yang merupakan salah satu yang paling aktif secara geotermal di dunia, tetapi juga apakah pihak berwenang mampu menerapkan dan, yang lebih penting lagi, menegakkan dengan ketat perlindungan terhadap bencana.

Tetangga seperti Singapura dan Australia selalu memiliki keprihatinan serius akan potensi bencana jika Indonesia menjadi negara nuklir, mengingat catatan keamanan negara itu di bidang lainnya. Lalu yang menjadi pertanyaan orang-orang yang skeptis adalah mengapa pengawas industri yang baru-baru ini ditunjuk tampaknya menghilangkan segala kekhawatiran tersebut?

Penganjur energi nuklir Bob Effendi, yang merupakan anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Presiden Joko Widodo, sudah memiliki jawaban yang siap untuk penentang nuklir: mengurangi banyak risiko reaktor konvensional dengan menggunakan reaktor garam cair berbahan bakar torium, yang tidak hanya kebal terhadap kehancuran tetapi lebih murah dan menghasilkan lebih sedikit limbah beracun.

Mengapa reaktor garam termal Indonesia ditinjau kembali 60 tahun setelah pertama kali dikembangkan tetapi tidak benar-benar dihidupkan, memerlukan pemahaman atas alasan politik, industri dan militer yang begitu rumit yang mendorong Amerika Serikat untuk memilih reaktor air yang didinginkan uranium.

Effenndi menantang persepsi secara luas yang mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang tidak terbatas dan mengklaim bahwa cadangan batubara dan gas akan habis pada tahun 2035-2040 dan bahwa potensi untuk energi terbarukan seperti matahari dan angin hanya 15% dari apa selama ini diklaim.

Pada bulan Maret 2017, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI meluncurkan Rencana Sumber Daya Nasional yang direvisi, yang meningkatkan penggunaan yang ditargetkan dari energi terbarukan – yang mana nuklir dianggap sebagai salah satunya – dari 5% hingga yang sangat ambisius 23% selama tujuh tahun ke depan.

Itu – dan kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas terpasang dari 55.000-MW ke 125.000-MW dalam rentang waktu yang sama – tampaknya tidak mungkin kecuali nuklir menjadi bagian integral dari gabungan tersebut.

“Perencanaan energi sangat kacau,” demikian ungkap Effendi yang melihat bahwa pemerintah tidak percaya dengan agensinya sendiri dalam mengelola tenaga nuklir. “Kami tidak memiliki rencana untuk mencapai rencana yang sebenarnya.”

Original: Is Indonesia preparing to go nuclear?