Masuknya paham Islam radikal kedalam beberapa universitas di Indonesia telah membuat pemerintahan Presiden Joko Widodo khawatir, serta memberikan bukti lebih lanjut bahwa konservatisme agama yang terus melalui evolusi serta intoleransi telah mengubah karakter masyarakat sekitar dua dekade setelah mulainya pemerintahan yang lebih demokratis.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan baru-baru ini mengeluarkan hasil dari sebuah survei tahun lalu yang menunjukkan 39 persen dari mahasiswa yang terdaftar di 15 universitas yang berada di berbagai wilayah Indonesia menolak demokrasi dan konsep masyarakat majemuk dari ideologi negara Pancasila.

Sekalipun mayoritas masyarakat Indonesia tampaknya tetap memilih demokrasi, survei ini juga menemukan bahwa sebanyak 24 persen dari mahasiswa tersebut serta 23 persen dari pelajar sekolah menengah mendukung jihad dengan kekerasan sebagai cara untuk mengubah Indonesia, negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar didunia, menjadi negara Islam yang menerapkan hukum agama tersebut.

Ini bukan pertama kalinya orang-orang muda Indonesia, yang kebanyakan dari mereka adalah produk dari masa reformasi, menunjukkan adanya peningkatan ketertarikan terhadap konservatisme agama yang kemungkinan berhubungan dengan kegagalan politik negara.

Pada bulan Oktober tahun lalu, sebuah survei lainnya yang dikeluarkan secara bersama oleh Lembaga Mata Air dan Pusat Penelitian Alvara menunjukkan sebanyak 20 persen dari pelajar sekolah menengah dan universitas di Indonesia mendukung berdirinya sebuah khilafah yang dipimpin oleh seorang pemimpin spiritual Muslim yang diberi gelar khalifah.

Hanya beberapa minggu sebelumnya, lebih dari 3.000 rektor universitas dan pengajar dari berbagai wilayah Indonesia berkumpul di Bali untuk mendeklarasikan komitmen bersama untuk membasmi intoleransi dan radikalisme di kampus-kampus.

Seperti di negara tetangga Malaysia, para politisi dan birokrat yang terlibat korupsi tampaknya tidak mau menghubungkan antara meningkatnya ketakwaan religi dengan barometer moral yang lebih kuat yang harusnya berjalan bersamaan. Kemunafikan seperti inilah yang dipercayai para analis bermain di pikiran orang-orang muda.

Original: A youthful intolerance takes hold in Indonesia