Seorang pekerja migran Indonesia yang bekerja di sebuah kapal memancing ikan Taiwan mengatakan dalam sebuah konferensi pers bersama dengan pihak yang berwajib bahwa dia telah dipukuli, tidak diberi makan dan tidak diberikan gaji selama tiga bulan, Taipei Times melaporkan pada tanggal 2 Juni.

“Saya datang ke Taiwan untuk bekerja supaya saya bisa mengirim uang kembali ke kampung. Saya tidak mengira keadaan bisa menjadi seperti sekarang ini,” Pelaut bernama Safrudin tersebut mengatakan melalui seorang penerjemah dalam sebuah konferensi pers di kantor Parlemen Yuan di kota Taipei.

Rumah makan Indonesia tempat biasanya para pelaut tersebut makan diketahui menolak untuk melayani mereka karena majikan mereka berhutang uang kepada rumah makan tersebut, membuat Safrudin mencari pertolongan dari Departemen Urusan Tenaga Kerja Wilayah Yilan.

Pada tanggal 10 Mei diadakan pertemuan perdamaian antara majikan dan pekerjanya, dimana saat itu Safrudin malah dipukuli oleh majikannya yang juga mencoba untuk mengambil telpon genggamnya yang saat itu dia gunakan untuk merekam kekerasan yang menimpanya, menurut sekretaris-jenderal Serikat Nelayan Migran Yilan.

Anggota parlemen perwakilan Partai Progresif Demokratik Chen Man-li mengatakan bahwa agen tenaga kerja yang menyalurkan Safrudin untuk bekerja di Taiwan harus dihukum karena menolak menolong para pekarja yang hak-haknya dilanggar.

Dia menambahkan bahwa pemerintah juga perlu menyediakan para pekerja ini dengan layanan-layanan dalam bahasa ibu mereka melalui penerjemah sehingga setiap korban dapat melaporkan kasus mereka dengan mudah.

Original: Indonesian ‘beaten, starved and not paid’ in Taiwan