Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria Tiongkok melakukan tendangan bergaya kung fu terhadap seorang pria Afrika yang terlihat dalam video itu melecehkan seorang pengemis, telah menuai berbagai macam reaksi dari para pengguna media sosial yang telah menontonnya – beberapa orang di Taiwan mengatakan pria Tiongkok tersebut mamakai kekerasan yang berlebihan.

Telah beredar dengan luas melalui media sosial di Tiongkok, video tersebut mempertunjukkan bagaimana sang pria Afrika berteriak terhadap seorang pengemis yang duduk tak berdaya disebuah jalanan di Guangzhou, provinsi Guangdong. Pria itu juga menampar sang pengemis di bagian kepala dan kemudian menendangnya.

Sementara orang-orang lain yang lewat tidak memberikan pertolongan, seorang pria Tiongkok tiba-tiba muncul dan melompat-tendang pria berkulit hitam tersebut sampai jatuh, sebelum kemudian menunjuk dengan jarinya kepada pria Afrika itu. Video tersebut berakhir dengan ucapan seorang wanita yang terdengar mengatakan “dia pantas mendapatkan itu”, tanpa keterangan lebih lagi mengenai apa yang terjadi selanjutnya.

Netizen di Tiongkok dan Taiwan pun memiliki pandangan yang berbeda mengenai kejadian tersebut. Kebanyakan penonton video dari dataran Tiongkok memuji pria Tiongkok tersebut sebagai pahlawan, mengetahui biasanya tidak ada seorangpun yang bersedia menolong saat kejadian seperti itu terjadi. Penuh dengan kebanggaan nasionalis, seseorang mengatakan, “Orang-orang Tiongkok harus bersatu untuk melawan penyerbu asing.”

Sementara itu, banyak netizen Taiwan setuju bahwa menggunakan sebuah tendangan kung fu merupakan cara yang efektif untuk menghentikan pria Afrika tersebut dari melecehkan sang pengemis, namun mereka mengatakan bahwa sang “penyelamat” dapat menghadapi tuntutan oleh karena penggunaan kekerasan yang berlebihan, apabila dia melakukannya di negara lain.

Mereka menambahkan bahwa pria kung fu tersebut sesungguhnya juga telah melecehkan pria Afrika tersebut, yang kemungkinan adalah seorang pekerja migran.

Pada pertengahan tahun 2017, ada sekitar 15,000 orang Afrika yang bekerja secara legal di Guangzhou, beberapa diantaranya telah ada di kota tersebut semenjak beberapa dekade belakangan ini, khususnya untuk pameran tahunan Canton Fair. Namun media di dataran Tiongkok mengatakan bahwa kemungkinan ada lebih dari 200,000 pekerja migran ilegal asal Afrika yang kebanyakan buta huruf dan bekerja sebagai kuli atau melakukan aktifitas ilegal lainnya.

Original: Kung fu hero’s rescue video kicks up real storm with viewers