Aktivis Kwok Cheuk-kin sekali lagi mencoba menghantam sistem hukum Hong Kong, dan kali ini dia mengajukan permohonan kepada Pengadilan Tinggi untuk meninjau kembali penanganan pemerintah atas pemugaran di wilayah Central.

Pria yang dijuluki “raja peninjauan ulang” dan telah berhutang lebih dari HK$10 juta dalam biaya proses hukum dari beberapa kasus sebelumnya tersebut bersikeras bahwa pembangunan sebuah pusat acara di pinggir laut daerah Central telah ditangani dengan tidak benar karena tempat tersebut tidak menyediakan fasilitas yang tepat untuk pekerja rumah tangga dan pelaku seni jalanan.

Kwok yang berusia 79 tahun tersebut mengatakan bahwa orang-orang ini harus mentolerir keadaan cuaca yang tidak bersahabat saat mereka berkumpul dengan teman-teman atau melakukan aksi seni mereka karena tidak ada rencana untuk menyediakan tempat bernaung bagi mereka, Headline Daily melaporkan.

Dia menambahkan bahwa usulannya hanya akan mengenakan biaya kepada pemerintah sebesar HK$10 juta saja, yang menurutnya merupakan sebuah investasi yang bagus.

Kwok juga menyertakan sebuah surat dukungan dari Konsula-Jenderal Filipina di Hong Kong dalam ajuan permohonannya kepada Pengadilan Tinggi.

Sekretaris urusan rumah tangga kota Hong Kong, Lau Kong-wah, tertera sebagai responden dalam surat ajuan tersebut, yang merupakan aksi tuntutan terbaru dari sekitar 20 permohonan peninjaukan ulang yang telah dibuat oleh Kwok dalam satu dekade ini.

Aktivis tersebut berkata pada akhir Juli bahwa dia telah bangkrut setelah kalah dalam kasus terakhir, melawan mantan kepala eksekutif Hong Kong Leung Chun-ying. Kwok mengatakan bahwa Leung tidak menyebutkan kata “Hong Kong” ketika membacakan sumpah jabatannya pada tanggal 1 Juli 2012, serta meminta pengadilan untuk meninjau ulang keabsahan pengambilan sumpah jabatan tersebut.

“Saya kira, saya tidak akan mampu membayarnya,” demikian ungkapnya saat diperintahkan untuk membayar biaya peradilan sebesar HK$200.000 setelah persidangan kasus Leung.

“Kalian dapat umumkan bahwa saya bangkrut, tetapi apapun yang kalian lakukan pada saya, kalian masih harus memberikan kepada saya tunjangan hari tua, supaya saya masih dapat makan. Kalau kalian mau saya bangkrut, saya punya beberapa pasang sepatu rusak dan beberapa pakaian yang sudah robek, kalian bisa melelangnya,” dia menambahkan.

Original: Broke but unbowed, judicial activist speaks up for maids