Sebuah panduan telah diluncurkan di Indonesia berkenaan dengan perihal Azan setelah seorang wanita Indonesia keturunan Tionghoa dipenjara awal bulan ini atas tuduhan penistaan agama setelah dia membuat keluhan mengenai kerasnya pengeras suara di sebuah masjid.

Hanya mereka yang memiliki suara merdu yang diijinkan untuk melakukan Azan sementara pengeras suara harus mengikuti ketentuan dasar yang ada dan tidak menganggu telinga, menurut panduan baru yang dimaksud, yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama.

Orang-orang yang berpengalaman saja yang seharusnya menangani pengeras suara masjid untuk menghindari kebisingan yang dapat menyebabkan ketidak-sukaan terhadap keberadaan masjid.

Masjid-masjid juga diperlukan untuk melakukan Azan pada waktu-waktu yang tepat, tidak di waktu kebanyakan orang hendak pergi tidur, atau sedang istirahat dan beribadah. Kerasnya suara juga perlu dijaga pada saat pengeras suara dipakai di waktu berdoa, sementara untuk aktifitas-aktifitas yang tidak berhubungan dengan doa, seperti pembacaan Quran, pengeras suara hanya boleh dipakai didalam masjid yang bersangkutan, menurut panduan tersebut.

Meiliana, seorang wanita Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha dan berusia 44 tahun, dipenjara selama 18 bulan oleh karena keluhannya mengenai pengeras suara sebuah masjid yang menurutnya terlalu keras di bulan Juli 2016. Dia dituntut atas tuduhan penistaan agama yang akhirnya juga berujung pada kerusuhan yang menyebabkan setidaknya 14 wihara Buddha di Indonesia dirusak massa.

Beberapa pengacara dan kelompok-kelompok hak sipil menganggap keputusan pengadilan terlalu berlebihan dan konyol. NU dan Muhammadiyah – dua kelompok Islam terbesar di Indonesia – juga mempertanyakan apakah tuduhan penistaan agama tersebut benar-benar perlu dalam kasus ini.

Original: Indonesia launches guidelines on mosque broadcasts