Seorang majikan sedang diperiksa oleh Kementerian Tenaga Kerja Singapura setelah dua orang pembantunya, seorang wanita Indonesia berusia 41 tahun dan teman sepekerjanya yang berasal dari Filipina dan berusia 30 tahun, dilaporkan telah dipaksa untuk tidur diluar rumah dan diperlakukan dengan tidak baik.

Kementerian Tenaga Kerja pun segera memindahkan kedua wanita tersebut ke tempat dimana mereka dapat tinggal dan makan dengan baik.

Pembantu Indonesia yang bersangkutan telah memberitahukan media online Stomp News pada tanggal 14 Agustus, serta Shin Min Daily News mengenai perlakuan tidak baik tersebut. Dia mengatakan bahwa dia mulai bekerja pada majikan tersebut di bulan Juni tahun ini, sementara sang pembantu Filipina telah bekerja pada keluarga tersebut selama tiga tahun.

Sejak tanggal 31 Juli, kedua pembantu telah tidur di ranjang yang sama di tempat terbuka di belakang rumah, yang mana penuh dengan barang-barang rumah lainnya, di kediaman yang terletak di Sian Tian Avenue, Bukit Timah. Keluarga tersebut baru belum lama pindah ke daerah tersebut.

Kedua pembantu tidak diijinkan untuk tidur dalam rumah karena menurut majikan kamar mereka belum siap untuk ditempati. Sang pembantu Indonesia berkata kedua pembantu setiap harinya harus bekerja dari pukul 6 pagi sampai pukul 11 malam atau terkadang sampai tengah malam, setidaknya 18 jam sehari. Mereka juga tidak mendapatkan waktu istirahat yang jelas setiap sore karena mereka juga harus menjaga anak laki-laki majikannya yang berusia 14 tahun.

Pada saat hari libur mereka di hari Minggu, kedua wanita tersebut hanya diijinkan keluar rumah setelah selesai bekerja pada pukul 1 siang dan harus sudah kembali di rumah pada pukul 8 malam.

Suatu hari, sang pembantu Indonesia disuruh untuk mengepakkan lebih dari 3.000 botol wine sendirian, setelah dia menyelesaikan pekerjaan hari-hari nya. Dia baru selesai mengepak botol-botol tersebut pada pukul 2 pagi.

Majikan mereka juga sering memarahi kedua pembantu dan menyebut mereka goblok, demikian imbuh sang pembantu. Mereka berdua juga hanya diberikan jatah uang makan sebesar S$20 per minggu, sehingga mereka hanya mampu untuk membeli mie instan dan ikan tuna kalengan.

Yang lebih buruk lagi, pembantu yang berasal dari Filipina jatuh dari tangga dan lengan atasnya luka, namun sang majikan menolak untuk membawanya ke dokter untuk diperiksa. Majikan tersebut berkata bahwa luka nya akan sembuh sendiri.

Beberapa petugas dari Kementerian Tenaga Kerja mengunjungi rumah tersebut pada tanggal 15 Agustus dan segera membawa kedua pembantu tersebut untuk perawatan khusus, sementara pemeriksaan atas perlakuan tidak baik dan pelanggaran lainnya oleh sang majikan sementara ini sedang dilakukan pihak yang berwajib.

Original: Maids forced to sleep outdoors, fed on instant noodles