Departemen Perhubungan Udara RI sedang memeriksa apakah cuaca buruk yang menyebabkan jatuhnya sebuah pesawat di provinsi Papua pada hari Sabtu yang merengut nyawa delapan orang penumpang.

Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun adalah satu-satunya yang selamat dari kecelakaan pesawat yang dioperasikan oleh Dimonim Air tersebut. Pesawat itu jatuh di Pegunungan Bintang, di daerah hutan wilayah Oksibil.

Diidentifikasi bernama Jumaidi, bocah laki-laki tersebut segera dievakuasi ke sebuah rumah sakit di ibukota provinsi, Jayapura, untuk melalui pengobatan karena patah tulang.

Pesawat tersebut kehilangan kontak dengan kontrol lalu lintas udara tidak lama sebelum pesawat itu dijadwalkan mendarat di bandara udara Oksibil, sekitar 40 menit setelah lepas landas dari Bandara Udara Tanah Merah di Kabupaten Boven Digoel yang terletak disekitar Sungai Digul.

Masyarakat desa sekitar melaporkan mendengar “suara raungan yang keras yang kemudian diikuti dengan sebuah ledakan”, menurut agen berita AFP. Keadaan cuaca saat itu pun buruk, disertai dengan hujan dan awan tebal, yang menyebabkan semakin sulitnya regu penyelamat untuk mengevakuasi jenasah kedua pilot dan enam penumpang yang tewas.

Daerah tersebut sangat rawan kecelakaan pesawat. Tahun lalu, sebuah pesawat Cessna yang membawa persediaan bahan makanan jatuh tidak jauh dari Bandara Udara Oksibil, menewaskan sang pilot, yang merupakan satu-satunya penumpang dalam pesawat tersebut.

Dua tahun sebelumnya, sebuah pesawat Trigana Air yang membawa 54 orang penumpang, jatuh di wilayah pegunungan yang sama, menewaskan seluruh penumpang.

Juru bicara militer Papua Letnan Kolonel Dax Sianturi berkata pemeriksaan akan dilakukan oleh komite keamanan transportasi nasional.

Original: Poor weather may have been factor in fatal Papua plane crash