Netizen baru-baru ini dibuat marah oleh karena sebuah video yang diposkan di media sosial pada hari Kamis malam, yang mana menunjukkan seorang pembantu Indonesia di Singapura memukul majikan wanita yang sudah lanjut usia dan sedang sakit dengan menggunakan telepon gengam nya.

Kejadian tersebut diduga terjadi pada tanggal 8 August di Telok Blangah Crescent di Singapura, dimana pembantu berusia 31 tahun tersebut terlihat berusaha membuat diam majikan nya tersebut dengan memukulnya di bagian kepala, surat kabar Singapura Lianhe Wanbao melaporkan.

Seorang pembantu Filipina bernama Jenny yang sedang lewat begitu kaget dan marah dengan apa yang dilihatnya sehingga dia pun memutuskan untuk membuat video tersebut supaya keluarga majikannya mengetahui apa yang dilakukan sang pembantu.

Video berdurasi 55 detik tersebut telah ditonton lebih dari 133.000 kali dan diteruskan lebih dari 2.400 kali sejak diposkan di halaman Facebook “All Singapore Stuff” oleh mantan majikan Jenny.

Menurut laporan yang ada, setelah video tersebut diposkan ke Facebook, seorang wanita Singapura berusia 63 tahun yang bermarga Toh, yang merupakan anak perempuan korban, akhirnya mengetahui permasalahan tersebut.

Dia memberitahukan kepada Shin Min Daily News bahwa pembantu yang bernama Asril tersebut dipekerjakan olehnya pada bulan Desember untuk menjaga ibunya yang telah sangat lanjut usia dan mengidap penyakit dementia serta tidak bisa bicara setelah terkena stroke pada bulan November tahun lalu.

Pembantu tersebut diketahui sebagai pembantu yang baik oleh Toh karena kinerja terbilang cukup baik dan dia mempertunjukkan perhatian yang baik pada ibunya, demikian ungkap Toh yang berbicara sembari menangis karena dia dan keluarganya tidak tahu kalau ternyata sang pembantu sangat kejam.

Kepolisian dan Kementerian Tenaga Kerja Singapura, serta agen tenaga kerja yang bersangkutan pun menerima laporan kasus tersebut. Pembantu itu segera dijemput oleh agen nya pada Sabtu pagi dan akan segera dikembalikan ke Indonesia.

Original: Video: Indonesian maid hits ailing Singaporean employer