Seorang warga negara Indonesia bernama Meiliana, seorang wanita berdarah Tionghoa, dapat dijatuhi hukuman 18 bulan penjara apabila terbukti bersalah atas tuduhan penistaan agama setelah dia mengeluh bahwa speaker di masjid terlalu berisik.

Keluhan wanita beragama Buddha ini juga menyebabkan kerusuhan yang menghancurkan beberapa wihara di daerah tersebut.

Meiliana yang berusia 44 tahun dan tinggal di Tanjung Balai, Sumatra Utara, berkata bahwa azan “terlalu keras” dan “menyakiti” telinganya. Masyarakat yang marah pun akhirnya menghancurkan setidaknya 14 wihara Buddha, menyebabkan banyak keluarga Indonesia-Tionghoa yang harus melarikan diri ke negara-negara tetangga di sekitar Pulau Sumatra.

Kejadian ini terjadi pada bulan Juli 2016, namun Meiliana baru dituntut pada bulan Mei tahun ini. Sebanyak 19 orang ditangkap dalam waktu satu sampai empat bulan kerusuhan yang dimaksud, kebanyakan karena mencuri atau melakukan pengrusakan.

Jaksa penuntut meminta agar Meiliana dipenjara selama 18 bulan oleh karena telah melanggar hukum di Indonesia dengan melakukan penistaan terhadap agama Islam. Pengacara Meiliana, Rantau Sibarani, berkata tidak ada bukti jelas yang menunjukkan terdakwa melakukan penistaan tersebut.

“Kasus ini terlihat sangat dipaksakan. Hanya untuk memenuhi kehendak masyarakat,” Sibarani mengatakan kepada Hakim Wahyu Prasetyo Wibowo, menurut laporan berita AP. Sidang akan dilanjutkan pada hari Kamis.

Original: Woman charged with blasphemy for saying mosque was too noisy