Banyak pekerja migran Indonesia mencoba untuk menghindari larangan bagi WNI untuk bekerja di negara-negara teluk yang dikeluarkan oleh pemerintah RI dengan cara terbang ke negara tujuan melalui negara-negara Asia lainnya atau meninggalkan Indonesia dengan berpura-pura pergi Haji.

Sekalipun pemerintah telah mengeluarkan larangan pada tahun 2015, banyak pekerja migran Indonesia yang terus mencari pekerjaan di wilayah tersebut. Salah satu tujuan favorit bagi para pekerja Indonesia ini adalah Bahrain, dan untuk sampai disana, mereka menggunakan cara-cara alternatif, GDN Online melaporkan dengan mengutip seorang juru bicara dari Kedutaan Besar RI di Bahrain.

KBRI di Bahrain berkata bahwa mereka terus menerima keluhan dari banyak pekerja rumah tangga yang memiliki visa kerja sah di Bahrain mengenai majikan mereka yang kasar dan tidak membayar gaji. Kebanyakan dari para pekerja yang membuat keluhan ini tiba di Bahrain setelah larangan yang dimaksud dikeluarkan pada tahun 2015.

Banyak diantara pekerja tersebut terbang ke timur tengah melalui Malaysia, Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya untuk menghindari pemeriksaan ketat petugas imigrasi di Indonesia, menurut KBRI di Bahrain.

Beberapa pekerja yang berpura-pura ke Arab Saudi untuk beribadah Haji akhirnya menjadi pekerja rumah tangga di negara tersebut, Duta Besar RI untuk Bahrain Nur Syahrir Rahardjo berkata dalam sebuah wawancara yang berbeda sebelumnya.

Larangan untuk WNI bekerja di 21 negara timur tengah, yang dikeluarkan pada tahun 2015, tersebut diberlakukan setelah ditemukan begitu banyak kasus pelecehan dan penganiayaan terhadap pekerja migran Indonesia di negara-negara tersebut.

Pada tahun 2015, Arab Saudi mengeksekusi mati dua orang pekerja rumah tangga asal Indonesia setelah mereka terbukti bersalah atas sebuah kasus pembunuhan.

Pemerintah RI menegaskan bahwa setiap warga negara Indonesia yang menentang larangan bekerja di timur tengah akan dianggap sebagai “penduduk ilegal”.

Original: Indonesians defy government ban to work in Bahrain