Seorang pria berusia 28 tahun ditangkap awal bulan ini atas dugaan beroperasi sebagai perantara antara para pelanggan individual dan lebih dari 80 rumah bordil di Taipei dan New Taipei City melalui Line, sebuah aplikasi medsos yang cukup populer disana.

Pria tersebut merupakan tersangka pengedar narkoba yang telah menjadi target pemeriksaan polisi, yang kemudian menemukan bahwa pria itu juga menjalankan semacam call center 24 jam yang melayani penjadwalan antrian pelanggan pria dengan 86 rumah bordil disana, China Times melaporkan.

Pada pukul 6 malam tanggal 3 September, polisi menggerebek sebuah apartemen di wilayah Luzhou di New Taipei City, dimana tersangka beserta dengan tiga orang kaki tangan ditemukan sedang dalam pembicaraan dengan lebih dari 10 orang pelanggan, mengkonfirmasikan detil dari rumah bordil yang diminta serta biaya yang bersangkutan.

Polisi menyita sebagai barang bukti enam komputer dan sebuah buku yang berisi informasi tentang perdagangan seks yang dioperasikan tersangka.

Pemeriksaan awal menyatakan bahwa setiap rumah bordil membayar komisi sebesar NT$500 (US$16) untuk setiap transaksi yang berhasil. Diperkirakan call center gelap tersebut rata-rata membuat setidaknya 30 transaksi setiap harinya, yang artinya operasi call center yang dimaksud menghasilkan sekitar NT$500.000 per bulannya.

Polisi berkata rumah-rumah bordil biasanya akan mengirimkan katalog daftar pekerja seks yang mereka miliki kepada tersangka, yang kemudian meneruskannya kepada para pelanggan lewat aplikasi Line.

Para pekerja seks wanita lokal dan asing yang terlibat, termasuk dari Polandia, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, Indonesia, Malaysia dan dataran Tiongkok, diduga mengenakan biaya antara NT$1.800 sampai NT$20.000 per sesi nya.

Original: Social-media-based call center for brothels busted in Taiwan