Universitas-universitas di Indonesia berupaya keras untuk mencari cara-cara memerangi ekstrimisme keagamaan setelah data-data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan kerentanan di institusi-institusi pendidikan tersier.

Muhammad Vikri, seorang mahasiswa jurusan sosiologi tahun terakhir di Universitas Indonesia (UI), berkata kepada Channel News Asia bahwa dia merasa kesepian di kampus dan butuh teman-teman. Dia mengungkapkan keinginannya untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi dan seorang mentor sedang terus membimbingnya dalam sebuah kelompok belajar keagamaan, yang disebut “liqo”, dimana dia akhirnya mendapatkan teman-teman baru.

Kelompok belajar semacam ini sedang terus dipantau oleh pemerintah dikarenakan meningkatnya orang-orang radikal di kampus-kampus dalam beberapa tahun belakangan ini. Tiga alumni Universitas Riau yang diduga merencanakan kegiatan teror ditangkap dalam sebuah penggerebekan pada tanggal 2 Juni, The Jakarta Post melaporkan beberapa waktu lalu.

Kelompok-kelompok belajar keagamaan di universitas-universitas di Indonesia perlu terus dimonitor, termasuk mengenai topik-topik dan hal-hal yang didiskusikan dalam pertemuan-pertemuan mereka, mengingat beberapa kelompok belajar berpotensi menjadi tempat perekrutan kaum ektrimis, demikian ungkap Dete Aliah, direktur dari Masyarakat Anti Radikalisme dan Ekstrimisme Dengan Kekerasan.

BNPT berkata bahwa mahasiswa dan mahasiswi telah dijadikan target perekrutan oleh kekuatan ekstrimis dari luar Indonesia.

UI yang berlokasi di Depok, Jawa Barat saat ini memiliki beberapa organisasi kemahasiswaan yang siap mejaga sekitar 60.000 mahasiswa dan mahasiswi di kampus, dengan menggunakan mekanisme yang membantu para mahasiswa dan mahasiswi disana melaporkan apapun mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan radikalisme di kampus.

Mahasiswa dan mahasiswi baru disana diharuskan untuk mengikuti kelas pendidikan nasional yang dibuat sebagai bagian dari usaha mengatasi radikalisme.

Para pakar anti-teroris berkata bahwa ekstrimisme telah ada di Indonesia selama hampir 30 tahun, sementara beberapa kasus penangkapan kaum ekstrimis di kampus-kampus belakangan ini telah menjadi sebuah alarm bagi masyarakat umum.

Original: Indonesian universities seek to fight campus extremism