“Kita perlu menjaga sungai ini untuk tetap bersih,” demikian ungkap Muhammad Yusuf, seorang petugas perikanan Padang, Sumatra Barat. “Kita perlu mencegah orang-orang dari membuang sampah disini.”

Tidak jauh dari sana, ditempat bertemunya sungai dan laut, pantai-pantai di kota Padang sudah tidak enak dipandang mata oleh karena dikotori oleh sampah plastik.

“Kita perlu membuat keputusan yang lebih baik terkait masalah lingkungan,” Yusuf berkata, sembari mengambil sebuah kantong plastik bekas dari dalam air.

Yusuf adalah satu diantara sekitar 20.000 warga negara Indonesia yang berpartisipasi dalam “Face the Sea” (atau berarti “Menghadap Laut” dalam Bahasa Indonesia), yaitu sebuah acara satu hari yang diadakan secara serempak di 76 lokasi di seluruh Indonesia pada tanggal 19 Agustus.

Tujuan acara tersebut adalah untuk menarik perhatian masyarakat umum terhadap bahaya meluasnya sampah plastik di laut Indonesia, serta perlunya beberapa pendekatan yang lebih baik untuk mengatasi krisis tersebut.

Setelah dataran Tiongkok, Indonesia saat ini merupakan negara dengan polusi plastik kedua terbesar di dunia, dengan 3,2 juta ton sampah plastik yang tidak diatur dengan baik setiap tahunnya – 1,29 juta ton diantaranya ditemukan di laut.

Di Indonesia saja, sekitar 10 milyar kantong plastik, dengan berat total 85.000 ton, dibuang begitu saja di lingkungan sekitar setiap tahunnya, menurut data-data pemerintah.

Sementara itu, arus laut telah membawa kotoran plastik dari seluruh penjuru dunia berkumpul pada beberapa tempat yang menciptakan fenomena tumpukan-tumpukan sampah raksasa dimana-mana – yang terbersar terletak di Samudera Pasifik bagian utara dengan ukuran dua kali lipat besarnya negara bagian Texas di Amerika Serikat.

Tidak satu mil persegi pun dari permukaan laut bumi bebas dari plastik, menurut Pusat Ke-aneka-ragaman Hayati.

Ketika mahluk laut seperti penyu, ikan paus dan ikan-ilan lainnya mengira bahwa sampah plastik yang mengambang merupakan makanan, mereka akan menelan benda-benda yang tidak bisa mereka cerna. Plastik itupun akan tinggal dalam usus mereka selama-lamanya dan seringkali ini menyebabkan kematian.

Setidaknya ada 100.000 binatang dalam laut dan 1 juta burung-burung laut yang mati karena memakan plastik setiap tahunnya, menurut sebuah organisasi kelautan non-pemerintah yang bernama Ocean Crusaders.

Apabila ini terus terjadi maka pada tahun 2050 plastik di lautan akan menjadi lebih banyak daripada ikan-ikan yang ada, menurut sebuah laporan lainnya.

Original: Indonesia awash in a sea of plastic waste