Sekitar 30 wanita dari Filipina dan Indonesia tinggal di Bethune House, yang berarti Rumah Bethune di dalam Bahasa Indonesia, yaitu sebuah tempat perlindungan bagi pekerja rumah tangga bermasalah di Hong Kong, dan mereka semuanya menantikan untuk menyelesaikan perseteruan mereka dengan para majikan yang bersangkutan.

Sekalipun sebelumnya mereka tidak saling mengenal satu dengan lainnya, mereka saling mengerti perasaan setiap orang yang tinggal di tempat itu karena mereka semua telah melalui hari-hari gelap yang serupa dengan majikan mereka masing-masing, situs berita HK01.com melaporkan.

Ada berbagai macam alasan yang membuat mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat kerja mereka. Beberapa dari mereka lari karena dianiaya, sementara yang lainnya karena masalah gaji yang tidak dibayar atau kontrak kerja yang dibatalkan. Namun mereka semua memiliki tujuan yang sama, yaitu menantikan persidangan yang adil untuk mendapatkan kembali hak mereka yang diambil lewat perlakuan tidak adil.

Sayangnya, menunggu persidangan dilakukan atau jadwal bertemu dengan petugas departemen tenaga kerja dapat memakan waktu berbulan-bulan. Dan sementara mereka menunggu, mereka tidak boleh bekerja, sehingga mereka tidak memiliki penghasilan.

Bethune House menyediakan akomodasi dan makanan gratis bagi para wanita yang tinggal di tempat itu, dan sebagai ganti jasa yang diberikan rumah tersebut, para wanita ini pun membantu membersihkan shelter itu atau membuat kerajinan tangan untuk dijual melalui organisasi amal lainnya untuk dapat menghasilkan dana yang kemudian dapat membantu biaya operasi rumah tersebut.

Surati, seorang pekerja rumah tangga asal Indonesia yang telah tinggal di shelter tersebut sejak melarikan diri dari seorang majikan yang melecehkannya, berkata bahwa orang-orang ditempat itu datang dan pergi namun yang mengikat mereka bersama adalah suasana saling berbagi, baik itu berbagi masalah mereka ataupun makanan daerah mereka masing-masing.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Pusat Keadilan, dari sebanyak 1.003 pekerja rumah tangga di Hong Kong, 171 diantaranya dapat diklasifikasikan sebagai kasus kerja paksa, dimana mereka menderita pelecehan fisik ataupun verbal, tidak digaji, tidak mendapatkan liburan yang layak dan terlalu banyak kerja.

Survei tersebut menemukan bahwa para pekerja yang memiliki hutang atau potongan biaya agen yang besar yang dapat memakan sekitar 35% dari gaji bulanan mereka, sangat rentan masuk dalam kategori kerja paksa karena mereka tidak memiliki daya tawar dan tidak mengerti hukum setempat.

Itulah mengapa Bethune House juga mengajarkan kepada para pekerja rumah tangga tersebut mengenai hukum ketenagakerjaan, dan pada saat sebuah kasus disidangkan, para pekerja yang tinggal di rumah tersebut pun saling menemani satu dengan lainnya untuk menunjukkan dukungan dalam persidangan.

Surati berkata apabila dia mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bekerja di Hong Kong, dia sekarang memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana caranya melindungi diri sendiri.

Bethune House didanai oleh berbagai sumbangan dari gereja-gereja lokal, organisasi-organisasi migran di Hong Kong, lembaga-lembaga layanan, serta sumbangan pribadi dari warga-warga Hong Kong dan dari luar negeri, namun mereka tidak menerima subsidi dari pemerintah sama sekali.

Original: Bethune House shelters distressed domestic workers