Pemerintah Indonesia telah dihimbau oleh sebuah organisasi non-pemerintah untuk memperbaharui peraturan negara yang ada berkenaan dengan perlindungan penyu langka

TAFFIC, sebuah kelompok amal berbasis di Inggris Raya, mengeluarkan himbauan yang dimaksud setelah dua orang penyelundup dikenakan denda yang kecil dan hukuman penjara yang ditangguhkan atas tindakan penyelundupan penyu langka dalam dua kasus yang terjadi dalam dua bulan belakangan ini.

Pada tanggal 27 Agustus, Daniel Rooseno dijatuhi hukuman tiga bulan penjara yang ditangguhkan dengan denda sebesar 1 juta rupiah karena menerima dua penyu langka yang tidak memiliki sertifikat medis dari negara asal nya.

Pada tanggal 4 Oktober, Rudy Hartono menerima hukuman lima bulan penjara yang ditangguhkan dan didenda sebesar 5 juta rupiah atas kepemilikan beberapa ekor penyu langka, TRAFFIC melaporkan.

Berdasarkan hukum Indonesia, hewan yang bukan berasal dari Indonesia tidak dilindungi. Menurut laporan yang ada, jaksa menuntut kedua tersangka atas dasar hukum karantina dan bukan hukum satwa liar.

Kanitha Krishnasamy, direktur TRAFFIC untuk Asia Tenggara, berkata bahwa Indonesia harus memperbaharui hukum yang ada untuk melindungi hewan-hewan yang bukan berasal dari Indonesia namun terdaftar dalam kesepakatan dunia mengenai hewan langka.

Hukuman yang diterima kedua tersangka yang dimaksud cukup mengecewakan dan tidak akan membuat takut dan jera bagi orang-orang yang sudah terbiasa melakukan perdagangan ilegal tersebut, demikian imbuhnya.

Sebuah hasil penelitian yang dikeluarkan oleh TRAFFIC pada bulan Maret 2018 menunjukkan sebanyak 4.985 penyu dan kura-kura dijual di tiga toko hewan peliharaan, dua pasar hewan dan dua pasar ikan tropis di Jakarta antara bulan Agustus dan Desember 2015.

Original: Indonesia urged to strengthen protection of rare tortoises