Dalam contoh terbaru dimana media Singapura menyediakan tempat untuk membuat klaim mengenai pekerja asing di negara tersebut, seorang majikan Singapura baru-baru ini menulis surat kepada sebuah koran lokal yang berisi keluhan mengenai kekurangan pekerja rumah tangga nya yang berasal dari Indonesia.

Namun pertama-tama dia merasa perlu untuk menegaskan bahwa dia – sang majikan – telah mengalami nasib sial karena mempekerjakan seorang pekerja rumah tangga yang terkena sakit flu burung.

Oleh karena kejadian tersebut, sang pekerja harus diisolasi, dan majikan itu tidak punya pilihan lain selain mempekerjakan pekerja lainnya melalui sebuah agen tenaga kerja untuk menjaga anak laki-laki dan perempuannya.

Ketika majikan tersebut mengira dia sudah bisa beristirahat sejenak, pekerja pengganti yang ia dapati, yang berasal dari Indonesia dan berusia 26 tahun, ternyata juga memiliki beberapa kekurangan, termasuk masalah kebersihan pribadi.

Sekalipun sang pekerja pengganti berkata dia berpengalaman dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan menjaga anak-anak, majikan tersebut mendapati hasil kerjanya tidak memuaskan. Sehingga, majikan yang bermarga Huang tersebut menuliskan daftar contoh-contoh kekurangan sang pekerja dalam sebuah surat kepada Shin Min Daily News.

Dia tidak fleksible dan mengikuti “perintah” seperti robot. Ketika diminta untuk menyimpan makanan dalam kotak makanan, dia hanya menaruh makanannya dalam kotak dengan tidak menutupnya dengan penutup kotak tersebut. Saat diminta untuk melipat baju, dia melipat seluruh pakaian termasuk yang masih belum benar-benar kering.

Sang majikan menambahkan bahwa yang lebih bermasalah lagi adalah bagaimana pekerja tersebut lebih menyayangi putrinya dibandingkan anak laki-lakinya, dan pernah terlihat membentak bocah laki-laki tersebut saat bermain dengan mainannya. Huang merasa ini tidak masuk akal.

Tidak hanya kinerjanya yang berkekurangan, majikan tersebut juga menegaskan bahwa sang pekerja tidak menjaga kebersihan dirinya. Dia tidak menggunakan sabun ketika mencuci tangan dan pernah terlihat mengupil di meja makan.

Huang memberitahukan bahwa ketika dia mengembalikan pekerja tersebut kepada agen, dia pun dikenakan biaya ganti rugi sebesar S$300 (US$218) karena melanggar ketentuan dalam kontrak yang menyatakan adanya biaya tambahan apabila majikan tidak mempekerjakan sang pekerja selama setidaknya tujuh bulan penuh.

Huang merasa tidak senang akan hal ini dan mengatakan bahwa biaya tersebut harusnya dibebaskan, mengingat agen tersebut gagal menyediakan seorang pekerja berkualitas seperti yang dijanjikan.

Setelah negosiasi, biaya yang dimaksud akhirnya dipotong sebesar 50%. Laporan yang ada mengatakan bahwa sang majikan masih perlu mencari seorang pekerja pengganti yang cocok.

Sementara itu, pihak surat kabar yang bersangkutan, sekalipun telah mencantumkan nama pekerja yang dimaksud dalam laporan berita tersebut, tampaknya tidak mencoba untuk mengontak pekerja itu sama sekali, terlebih memberikan kesempatan baginya untuk menjelaskan tuduhan terhadap dirinya.

Original: Employer’s rant about domestic worker makes the letters page