Penghargaan Sastra untuk Migran 2018, yang merupakan salah satu penghargaan karya sastra terbesar di dunia, diberikan di Taipei pada dua hari Minggu lalu.

Acara tahunan yang telah diadakan kelima kalinya ini dilangsungkan di Museum Nasional Taiwan di kota Taipei pada tanggal 30 September, Central News Agency melaporkan. Dan pemenangnya berasal dari Indonesia, Filipina dan Vietnam.

Hsiao Shu-chen, kepala Museum Sastra Nasional Taiwan, berkata dalam acara penganugerahan penghargaan yang dimaksud bahwa seluruh kandidat telah memperkaya dunia sastra di negara tersebut dan juga membawa kesadaran lebih lagi akan pemahaman budaya.

Sebanyak 553 karya sastra dalam Bahasa Indonesia, Tagalog, Vietnam dan Thailand, didaftarkan oleh para pekerja migran yang berasal dari beberapa negara Asia Tenggara untuk memenangkan penghargaan tersebut.

Warga negara Indonesia Loso Abdi, seorang pekerja migran yang telah bekerja di Taiwan dari 2011-2015, mememenangkan hadiah utama serta Penghargaan Pilihan Remaja untuk karyanya yang berjudul Tentang Cinta, yang menggambarkan sebuah hubungan kasih sayang antara seorang perawat migran dengan seorang anak Taiwan yang memiliki kebutuhan khusus.

Dua orang penulis asal Filipina memenangkan posisi kedua dalam ajang penghargaan tersebut. Melinda Babaran, yang bekerja di sebuah pabrik di Taiwan, menuliskan Latay sa Laman (yang berarti Luka Pecutan di Daging), yang menceritakan kisah kehidupannya sendiri, serta sebuah kisah rekonsiliasi antara seorang anak perempuan dan ayahnya yang telah meninggal dunia, sementara Louie Jean Decena mengutarakan rasa sayangnya terhadap keluarganya lewat tulisannya yang berjudul Ang Mahiwagang Kahon ni Itay (yang berarti Kotak Misterius Ayah).

Posisi ketiga dianugerahkan kepada tiga penulis – dua orang pekerja asal Indonesia, Yuli Riswati dengan karyanya Luka Masih ada di Tubuhku dan Pratiwi Mulansari dengan Orang-orang Penampungan, serta seorang warga negara Filipina yang namanya tidak bisa disebutkan karena dia sedang berada dalam penjara, dengan karya berjudul Nabigong Mga Pangarap At Pader sa Paligid, yang berarti Mimpi Rusak dengan Empat Dinding.

Sang narapidana berbicara dalam sebuah video mengenai masalah yang dia hadapi dalam persidangannya dimana dia dilarang mendapatkan pengacara dari Filipina dan seorang pengacara asal Taiwan yang ditugaskan untuk mewakilinya dalam persidangan, menyebabkannya tidak mengerti perkembangan kasusnya sama sekali oleh karena dia tidak bisa berbahasa Mandarin.

Penghargaan, yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan Taiwan dan beberapa kementerian lainnya tersebut, pertama kali diadakan pada tahun 2014 oleh toko buku Brilliant Time.

Original: Migrant literature awards presented in Taipei