Tujuh tahun lalu, menurut legenda setempat, seorang petani sayur miskin bernama Susyono menemukan sebongkah emas berukuran satu gram di Gunung Botak di Pulau Buru.

Dalam beberapa bulan saja, pulau tersebut telah dipenuhi oleh 130.000 petambang dari pulau-pulau Maluku serta wilayah Indonesia lainnya dalam sebuah penemuan emas yang mengingatkan kita akan peristiwa serupa di Amerika dan Australia pada akhir 1880-an.

Selama empat tahun berikutnya, penggunaan merkuri dalam jumlah besar yang diperlukan untuk memisahkan emas, telah membuat gunung tersebut berubah menjadi lahan sampah beracun yang sekarang membahayakan pertanian, kehidupan laut dan kesehatan masyarakat setempat.

Pada tahun 2015, pemerintah Maluku telah berhasil mengusir keluar para petambang ilegal ini, namun saat ini diperkirakan lebih dari 2.000 petambang telah kembali disana, dikabarkan berada dalam perlindungan polisi dan tentara setempat, serta beberapa pihak lain yang memiliki keuntungan dalam perdagangan emas tersebut.

Pada bulan Agustus, pihak yang berwajib di pulau tersebut menyita sebanyak 171 drum sianida, yang juga cukup dikenal sebagai bahan untuk meng-ekstrak emas. Namun Merkuri telah menjadi metode yang dipilih di ratusan pertambangan gelap di seluruh penjuru Indonesia yang kaya akan sumber daya alam.

Pulau Buru telah bergabung bersama wilayah Indonesia lainnya seperti Sulawesi Utara, Jambi, Kalimantan Tengah dan Lombok, dimana diperkirakan sebanyak 200.000 orang dipercayai telah lahir dengan kelainan fisik yang diduga kuat terjadi oleh karena keracunan merkuri.

Pulau Buru kemungkinan merupakan tambang emas ketiga terbesar di Indonesia setelah Freeport di Papua, yang setelah hampir 30 tahun ditambang masih mengandung 67 juta ons emas, serta tambang Batu Hijau di Sumbawa yang sudah hampir habis ditambang.

Original: Illegal mining leaves toxic wastelands in Indonesia