Warga yang tinggal disekitar TPA Bantar Gebang di pinggiran Jakarta telah meminta uang ganti rugi lebih dari pemerintah Indonesia.

TPA tersebut adalah tempat terakhir dibuangnya sampah dari sekitar 10 juta penduduk kota Jakarta dan merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia dengan luas 110 hektar. Warga setempat telah menamai TPA itu “Gunung”, dan baunya tercium sampai ke pemukiman penduduk sejauh 10 km dari TPA tersebut.

Saat ini, warga yang tinggal di sekitar Bantar Gebang menerima 200.000 rupiah setiap bulannya sebagai kompensasi, yang juga dikenal dengan sebutan “uang bau”, namun banyak yang telah berkata bahwa ini tidak cukup dan mereka menuntut lebih banyak uang yang diberikan sebagai kompensasi telah hidup dengan bau menyengat dari TPA yang dimaksud.

Salah seorang dari warga setempat, yang bernama Somad, berkata kepada Kompas.com bahwa bau menyengat yang dimaksud telah menambah biaya hidup warga. Beberapa warga lainnya juga telah mengungkapkan ketidaknyamanan yang mereka harus hadapi, seperti biaya membeli air oleh karena air disekitar wilayah tersebut telah menjadi kotor dan terpolusi.

Statistik yang ada mengindikasikan sekitar 18.000 keluarga tinggal di tiga perkampungan yang ada di sekitar TPA tersebut – 6.000 diantaranya hidup dari memungut sampah.

Ariyanto Hendrata, seorang anggota perwakilan masyarakat setempat, mengatakan tidak adanya indikasi bahwa ibukota negara akan mengurangi jumlah sampah yang ada dalam waktu dekat. Dia menambahkan bahwa pihak yang berwajib telah menghargai kesehatan warga setempat hanya dengan 200.000 rupiah per bulan adalah keterlaluan.

Selain Jakarta, TPA tersebut juga terletak dekat kota Bekasi, yang mana sang wali kota, Rahmat Effendi, dijadwalkan akan bertemu dengan beberapa pejabat DKI Jakarta untuk mendiskusikan perihal kompensasi dan lingkungan berkenaan dengan masalah TPA tersebut.

Indonesia merupakan salah satu produser sampah plastik terbesar di dunia dan merupakan penyebab polusi sampah plastik di laut kedua terbesar setelah dataran Tiongkok.

Original: Indonesians demand more money for living near landfill