Sebanyak 30 nelayan Indonesia akhirnya menerima gaji mereka dari sebuah perusahan Korea Selatan setelah melalui sebuah proses pertempuran hukum di Selandia Baru yang memakan waktu selama tiga tahun dan berakibat disitanya dua buah kapal.

Penyelesaian akhirnya tercapai setelah sebuah pertemuan di Pengadilan Tinggi di kota Christchurch pada hari Kamis. Ke-30 anggota kru tersebut menuntut sebesar NZ$5 juta (US$3,4 juta), namun pembayaran terakhir yang disetujui kedua belah pihak tidak diungkapkan.

Kasus tersebut dimulai setelah Oyang 70, satu diantara tiga kapal yang dimiliki oleh Sajo Oyang Corporation, tenggelam pada tahun 2010, dengan jumlah korban jiwa sebanyak enam orang. Kapal yang dimaksud saat itu sedang disewa oleh sebuah perusaan Selandia Baru bernama Southern Storm Fishing, yang akhirnya kemudian dilikuidasi, situs berita Stuff melaporkan.

Sajo Oyang terpaksa kehilangan dua kapal lainnya, Oyang 75 dan Oyang 77, yang disita oleh pihak yang berwajib Selandia Baru oleh karena pelanggaran memancing ikan yang dilakukan perusahaan tersebut pada tahun 2012 dan 2014, meskipun akhirnya kedua kapal ini dilepaskan dibawah ikatan sebuah jaminan hukum. Pada saat itu, Oyang 75 bernilai NZ$11 juta (US$7,5 juta), sementara Oyang 77 bernilai NZ$1,5 juta (US$1 juta).

Karena gaji mereka belum dibayar, para anggota kru tersebut pun mengklaim bahwa mereka memiliki “kepentingan” dalam kapal-kapal milik perusahan Korea Selatan tersebut dan maka dari itu berhak mendapatkan “bantuan” terhadap penyitaan yang dilakukan dibawah UU Perikanan Selandia Baru. Perusahaan Sajo Oyang pun menolak hal tersebut dan menghendaki kedua kapal tersebut kembali kepada perusahaan itu.

Keputusan beberapa pengadilan yang lebih rendah yang menguntungkan para nelayan Indonesia tesebut sempat dibalikkan oleh pengadilan banding, namun Mahkamah Agung akhirnya memutuskan pada hari Kamis bahwa ke-30 anggota kru kapal yang dimaksud berhak mendapatkan ganti rugi.

Hakim Nick Davidson berkata tidak masalah apabila kru tersebut belum pernah bekerja di atas kedua kapal yang disita tersebut, atau apakah tuntutan mereka diajukan sebelum penyitaan.

Dia menegaskan bahwa kedua kapal yang disita akan dikembalikan kepada Sajo Oyang setelah perusahaan itu menyelesaikan pembayaran uang ganti rugi kepada para anggota kru kapal, serta melunasi tagihan sebesar NZ$500.000 (US$340.683) kepada Kementerian Industri Primer Selandia Baru.

Memakan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan kasus ini sampai seorang diantara para anggota kru yang menuntut pun meninggal dalam proses pertempuran hukum tersebut, namun demikian klaim nya dilanjutkan oleh pewarisnya.

Original:Fishermen paid missing wages after three-year legal struggle