Sebuah tempat pebelanjaan di Singapura yang memiliki lebih dari selusin toko pengiriman uang telah menyaksikan sengitnya kompetisi dalam menarik pelanggan pekerja rumah tangga asal Indonesia yang secara teratur mengirim uang ke kampung halaman.

Shin Min Daily News baru-baru ini memberitakan seorang pria berusia 68 tahun yang terlihat mondar-mandir di luar City Plaza setiap hari Minggu dan menawarkan layanan pinjaman uang yang tidak berijin kepada pekerja rumah tangga asing, khususnya yang berasal dari Indonesia.

Reporter menginvestigasi dan menemukan sebanyak 14 toko pengiriman uang dalam pusat perbelanjaan yang dimaksud. Delapan toko terletak di lantai pertama, dimana tiga diantaranya baru beroperasi selama kurang dari enam bulan.

Seorang pekerja yang tidak ingin disebutkan identitasnya berkata kepada reporter bahwa pasar pengiriman uang telah menjadi jenuh dengan terlalu banyaknya kompetisi, sehingga mendorong toko-toko pengiriman uang untuk menggunakan berbagai taktik seperti menawarkan diskon, promosi atau undian untuk mempertahankan atau menarik pelanggan.

Seorang wanita Indonesia berusia 41 tahun, yang telah bekerja di Singapura selama sembilan tahun, berkata bahwa dia menggunakan layanan toko-toko tersebut hanya untuk mengirim uang ke kampung halaman dan tidak pernah berpikir untuk meminjam karena tingginya bunga pinjaman yang dikenakan pada peminjam. Dia menegaskan apabila dia butuh uang, dia akan meminta kepada majikannya untuk memberikan gaji bulanan nya di muka.

Seorang pekerja asal Indonesia lainnya yang berusia 38 tahun berkata dia akan meminta bantuan kepada sesama pekerja migran Indonesia atau majikannya, daripada mengambil pinjaman, sekalipun pada tempat peminjaman uang yang resmi.

Original: Remittance outlets struggle to attract domestic workers