Jepang diperkirakan akan segera meningkatkan jumlah pekerja migran yang diijinkan masuk ke negara tersebut sebanyak ratusan ribu sebagai usaha peremajaan pasar tenaga kerja disana.

Pemerintah Jepang akan segera mengeluarkan undang-undang baru yang akan meningkatkan jumlah pekerja berketerampilan rendah dan pekerja murah yang masuk ke negara tersebut, CBC melaporkan.

Populasi di Jepang semakin menurun dan ini merupakan masalah besar untuk sebuah negara yang perekonomiannya masih bersandar pada jenis-jenis usaha yang memerlukan banyak buruh pabrik.

Pada tahun 2017, populasi di Jepang menurun sebesar 0,3 persen menjadi 125,2 juta jiwa. Pada periode yang sama, tercatat hanya ada sebanyak 946.060 kelahiran saja, dan ini merupakan yang paling terendah semenjak 1899. Selain itu, 20 persen dari jumlah populasi di Jepang berusia 65 tahun keatas.

Untuk itu pemerintah Jepang saat ini tengah mengusahakan sebuah reformasi terhadap peraturan imigrasi disana agar dapat menerima lebih banyak lagi pekerja migran dalam lima tahun kedepan. Sekitar 345.000 pekerja migran di sektor menengah kebawah diperkirakan akan diterima Jepang dalam lima tahun kedepan tersebut.

Namun Jepang juga telah sering dikritik oleh karena perlakuan para majikan atau perusahan-perusahaan disana terhadap pekerja migran, khususnya yang diterima di negara tersebut dalam “Program Magang Pelatihan Teknis” yang bertujuan untuk memperlengkapi para karyawan magang tersebut dengan ketrampilan-ketrampilan yang mereka dapat bawa kembali ke negara asal mereka.

Kritik mengatakan bahwa sesampainya di Jepang, para karyawan magang ini biasanya malah mendapatkan pekerjaan yang tidak diinginkan, seperti menjadi petugas kebersihan dan pencuci piring.

Sejak tahun 2015, sebanyak 69 karyawan magang asing di Jepang telah meninggal oleh karena kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Selain itu, jumlah bunuh diri yang berhubungan dengan pekerjaan pun cukup mencemaskan.

Original: More foreign workers to supplement Japan’s ageing workforce