Seorang pekerja migran Indonesia yang hendak kembali ke Singapura setelah pulang liburan ke kampung halamannya mendapatkan masalah karena tidak membawa Kartu Pekerja Indonesia-Singapura dan hampir tidak diijinkan naik ke pesawat.

Wanita Indonesia berusia 38 tahun tersebut memeritahukan kepada Shin Min Daily News bahwa dia dan sekitar 10 orang lainnya pada awalnya diberitahukan bahwa mereka tidak diperbolehkan terbang kembali ke Singapura karena mereka tidak memiliki dokumen lengkap, khususnya Kartu Pekerja Indonesia Singapura (KPIS). Namun akhirnya dia berhasil menjelaskan situasinya kepada petugas imigrasi agar diijinkan naik pesawat.

Laporan berita yang dimaksud tidak mengungkapkan apakah pekerja yang lainnya juga akhirnya diijinkan naik ke pesawat. Para PMI tersebut kebingungan dan semuanya segera menghubungi majikan mereka di Singapura untuk meminta bantuan.

Wanita Indonesia tersebut berkata itu kali pertama dia mendapati masalah tersebut selama 10 tahun dia telah mondar-mandir antara Singapura dan Jakarta.

Sementara itu, sebuah pengumuman telah dikeluarkan oleh Kedutaan Besar RI di Singapura pada sekitar bulan Mei, yang kemudian dikeluarkan kembali pada tanggal 6 Desember melalui Twitter, mengingatkan para PMI bahwa apabila mereka liburan pulang ke Indonesia, mereka harus membawa KPIS, yang mana dikeluarkan sebelum mereka kembali ke Indonesia.

Permohonan untuk mendapatkan KPIS memerlukan empat buah dokumen, yaitu ijin kerja asli yang bersangkutan, fotokopi paspor sang pekerja, fotokopi kartu identitas majikan dan fotokopi kontrak kerja, yang semuanya harus dilegalisir oleh KBRI.

Biaya sebesar S$70 (US$51) akan dikenakan oleh pihak KBRI, yang biasanya akan mengeluarkan KPIS dengan masa berlaku yang sesuai dengan masa berlaku ijin kerja yang bersangkutan.

Seorang manajer agensi tenaga kerja Advance Link International berkata bahwa kebijakan mengenai para PMI diharuskan membawa KPIS ketika pulang liburan ke Indonesia telah ada semenjak beberapa tahun lalu, namun penerapan nya baru diperketat dalam beberapa tahun belakangan ini.

Original: Indonesians on leave from S’pore hit documentation snag