Untuk sesaat, sebelum kedua kandidat senior mulai saling menyerang dalam debat pilpres pertama baru-baru ini, pengusaha berusia 49 tahun Sandiaga Uno memberikan kepada para calon pemilih pandangan sekilas mengenai apa yang dapat diharapkan di masa depan dibawah kepemimpinan sebuah generasi baru yang datang dari latar belakang yang sangat berbeda.

Pasangan dari capres Prabowo Subianto tersebut sebenarnya merupakan seorang yang berasal dari generasi X, namun dia menghasilkan uang ratusan juta pertama nya pada awal usia 30-an tahun sehingga menjadikan nya seorang panutan bagi sekitar 80 juta orang yang saat ini berada dalam generasi millennial dan memiliki hak suara dalam pemilu serentak untuk pilpres dan pileg di Indonesia pada bulan April nanti.

Menurut sebuah survei yang dilakukan tahun lalu, sebanyak 95 persen dari penduduk di Indonesia yang berusia antara 24 sampai 42 tahun mengatakan bahwa mereka berencana untuk memilih calon presiden mereka pada tanggal 17 April nanti, dan banyak diantaranya berkata bahwa mereka menginginkan seorang pemimpin yang tegas dan berkemauan keras.

Itu berarti, Prabowo masih menjadi ancaman bagi Presiden petahana Joko Widodo, yang pada tahun 2014 juga berhadapan dengan Prabowo dan berhasil mengalahkannya dalam pilpres saat itu.

Mengikuti jajak pendapat dan dalam keadaan kurang dana, Prabowo hari ini lebih terkendali dan lebih memperhatikan partai nya Gerindra serta usahanya untuk mengalahkan Golkar yang merupakan partai kedua terbesar di Indonesia.

Apa dampak dari para millennial ini atas pemilu pada bulan April nanti masih belum jelas sementara hanya sejumlah kecil saja yang cocok dengan citra seorang berpendidikan asal kota yang paham teknologi dan sedang menaiki tangga perusahaan. Sebagian besar, pada kenyataannya, hanya mengenyam pendidikan dasar dan harus berjuang memenuhui kebutuhan hidup layaknya kebanyakan penduduk di Indonesia.

Sebuah laporan penelitian baru dari Institut Penelitian IDN yang dilakukan di 10 kota di Indonesia menunjukkan hanya 23,4% dari para millennial perkotaan berusia 20-35 tahun yang berpendidikan yang mengikuti politik – Ini sedikit berbeda dari contoh-contoh demokrasi yang telah dewasa di beberapa negara lain.

“Bagi mereka, masalah-masalah politik terlalu berat, terlalu rumit dan terlalu membosankan,” demikian laporan tersebut mengatakan, sementara menunjukkan minat tertinggi tampak di kalangan millennial di Sulawesi (39,8%) dan Jawa (31%), sementara minat terendah ditemukan di Bali (16.7%), dimana jarang yang berbicara tentang Jakarta dan politiknya sama sekali.

Penampilan mungkin masuk hitungan. Sifat progresif, pragmatis, dan keawet-mudaan Uno sangat kontras dengan Ma’ruf Amin, ulama Muslim berusia 75 tahun yang menjadi mitra koalisi Widodo.

Seperti yang diharapkan, Amin mungkin ada untuk melayani tujuannya dalam menumpulkan beberapa oposisi anti-Widodo di kalangan kelompok-kelompok Islam konservatif, sekalipun dia tampak seperti seorang penumpang saja. Uno, di sisi lain, telah memberi Prabowo dorongan yang signifikan, meskipun mungkin tidak cukup untuk mengatasi popularitas sang presiden petahana yang tidak dapat diragukan.

Original: A millennial glimpse into Indonesia’s political future