Sebuah laporan penelitian yang diterbitkan pada hari Selasa oleh dua kelompok hak asasi manusia dari Singapura dan Hong Kong menyimpulkan bahwa para pekerja rumah tangga di Singapura berisiko mengalami kerja paksa.

Namun pihak yang berwajib di Singapura telah mengklaim bahwa laporan tersebut tidak “secara akurat mencerminkan” kondisi dimana pekerja bekerja.

Pada hari Selasa, Organisasi Kemanusiaan untuk Ekonomi Migrasi (HOME) di Singapura dan kelompok anti perdagangan manusia di Hong Kong yang bernama Liberty Shared, mengeluarkan hasil penemuan mereka mengenai seringnya terjadi tindakan kerja paksa di sektor pekerjaan rumah tangga Singapura, Shin Min Daily News melaporkan.

Menurut HOME, antara April 2017 dan Maret tahun lalu mereka menerima sebanyak 2.832 keluhan dari pekerja rumah tangga asing. Sebanyak 483 dari kasus-kasus ini berhubungan dengan waktu dan beban kerja yang terlalu berlebihan, sementara sekitar 472 kasus berhubungan dengan pelecehan secara verbal, dan 342 kasus lainnya mengenai masalah gaji.

Kelompok tersebut menegaskan bahwa keluhan-keluhan ini merupakan “tanda-tanda yang kuat adanya faktor kerja paksa”.

Sebuah kasus “kerja paksa” yang dikutip oleh HOME melibatkan seorang pekerja yang telah bekerja pada seorang majikan selama hampir 10 tahun. Dia mengklaim bahwa majikannya belum membayar gajinya sebanyak S$40.000 – dan majikannya diduga memaksa wanita tersebut bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 11 malam setiap hari nya.

Korban juga tidak diberikan hari libur dan tidak diijinkan memiliki telepon genggam. Paspor serta surat ijin kerja nya pun telah lama ditahan semenjak dia mulai bekerja.

Namun Kementerian Tenaga Kerja Singapura berkata bahwa laporan tersebut tidak “secara akurat mencerminkan pekerjaan dan kondisi kerja pekerja rumah tangga asing” di negara tersebut.

Seorang juru bicara pemerintah berkata bahwa kerja paksa sesungguhnya merupakan sebuah masalah yang kompleks.

“Memenuhi satu atau beberapa indikator kerja paksa dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) tidak selalu berarti bahwa seorang pekerja benar-benar berada dalam sebuah situasi kerja paksa,” demikian ungkap juru bicara tersebut.

Original: Singapore’s domestic workers ‘face forced labor threat’