Seseorang dalam sebuah pertemuan gereja-gereja di Indonesia baru-baru ini mendapatkan sebuah pertanyaan apakah calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, akan membentuk sebuah khilafah apabila dia berhasil mengalahkan lawannya, presiden petahana Joko Widodo, pada pilpres April nanti.

Pertanyaan tersebut dilontarkan kepada adik laki-laki Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, seorang pengusaha beragama Kristen Protestan yang telah seringkali harus membela pendekatan agama Islam yang dilakukan oleh sang kakak, yang merupakan seorang Muslim.

“Saya beritahu anda, apakah jaminan bahwa Prabowo tidak akan membentuk sebuah khilafah? Sayalah jaminan tersebut,” pengusaha berusia 64 tahun tersebut meresponi pertanyaan yang dimaksud. “Kakak perempuan saya beserta kakak ipar saya yang keduanya beragama katolik, mereka juga akan menjadi jaminan,” demikian imbuhnya.

Sebagai negara dimana mayoritas warga negara nya adalah umat Muslim, di Indonesia, sekalipun dengan status kenegaraan nya yang sekuler, agama tetap menjadi permasalahan yang ditemui dimana-mana dalam kehidupan berpolitik, terlebih lagi untuk sebuah keluarga yang terbagi dalam beberapa iman kepercayaan yang berbeda.

Sang kakak perempuan, Bianti, yang berusia 70 tahun, dan suaminya, mantan gubernur Bank Indonesia Soedrajat Djiwandono, yang berusia 80 tahun, serta adik perempuan Bianti, Yani, 68, yang juga seorang Nasrani, ketiganya bekerja untuk partai Gerindra yang dibentuk oleh sang adik, Prabowo, yang saat ini berusia 67 tahun.

Partai Gerindra sendiri diprediksi akan berakhir di posisi kedua dalam pemilihan anggota legislatif yang akan diadakan serentak pada hari yang sama dengan pemilihan presiden di tanggal 17 April.

Soedrajat – yang anak laki-laki nya, Tommy Djiwandono, 46, merupakan bendahara Gerindra – berkata kepada calon pemilih beragama Kristen di Timor Barat dalam pilpres sebelumnya di tahun 2014, “Beberapa orang berkata karena partai-partai Islam mendukung Prabowo maka itu akan berbahaya bagi kelompok-kelompok agama minoritas. Saya katakan adalah tidak mungkin untuk Prabowo mendiskriminasikan agama-agama tertentu karena dia datang dari keluarga yang majemuk.

Selain itu, Prabowo selama ini pun lebih dikenal sebagai seorang pragmatis, bahkan semenjak saat dia masih menjabat sebagai Panglima Kostrad, dimana saat itu Hashim pun sempat dengan marah mempertanyakan kepada para jurnalis mengapa mereka mengkarakterisasikan Prabowo sebagai seorang Muslim radikal sementara ibunya dan seluruh anggota lain dari keluarganya yang berdarah biru tersebut telah dibesarkan sebagai umat Kristen.

Sampai hari ini, sekutu yang sama lah yang membantu Prabowo kembali dalam dunia politik di Indonesia setelah dia mengasingkan dirinya sendiri selama tiga tahun di Yordania setelah dikeluarkan dari militer seiring jatuhnya Suharto di tahun 1998.

Original: Eye on prize, Prabowo treads a fine religious line