Seorang pria yang bekerja sebagai supir taksi di Jakarta telah melakukan tindakan bunuh diri beberapa hari yang lalu, meninggalkan secarik surat bunuh diri yang mengatakan bahwa hutang keuangan yang bertumpuk lah yang telah merengut nyawanya.

Zulfadli ditemukan meninggal dalam kamar seorang sahabatnya di Mampang Prapatan pada hari Senin, 11 Februari, The Jakarta Post melaporkan. Surat bunuh diri yang ditinggalkannya menjelaskan bahwa dia sudah tidak dapat lagi menangani hutang-piutang nya pada peminjaman uang online.

Sang teman yang bernama Nardi dan berusia 22 tahun memberitahukan kepada petugas yang berwajib bahwa korban mengunjunginya pada hari Minggu dan meminta ijin untuk menginap. Menurut laporan yang ada, Zulfadli hendak menginap karena dia tidak dapat tidur di asrama perusahaan taksi tempatnya bekerja.

Nardi kemudian pergi bekerja malam itu dan ketika dia kembali pada sekitar pukul 9 keesokan pagi nya, dia mendapati kamarnya dikunci. Setelah dia mendobrak masuk kamarnya, dia pun menemukan mayat rekannya tersebut.

Inspektur Pertama Kepolisian Mampang Anton Prihartono berkata korban tidak menunjukkan gelagat yang aneh sebelum bunuh diri.

Korban menuliskan dalam sebuah surat bunuh diri bahwa dia menyesal telah membebani teman-teman nya, serta memberitahukan kepada pihak yang berwajib bahwa aplikasi-aplikasi peminjaman uang online merupakan “jebakan setan”. Dia juga meminta kepada keluarganya untuk tidak membayar hutang-piutangnya.

“Kepada para rentenir online, kita akan bertemu lagi di akhirat,” demikian tulis korban.

Masih belum jelas berapa besar tepatnya uang yang dipinjam oleh korban dari rentenir online.

Sementara itu, laporan dan keluhan mengenai perusahaan keuangan telah meningkat di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan ini. Perusahaan-perusahaan keuangan berbasis teknologi, yang juga dikenal sebagai perusahaan fintech, telah sering dikatakan sebagai penyebab terperangkapnya pelanggan mereka dalam lingkaran hutang yang diduga oleh karena cara-cara tidak etis yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan tersebut dalam mendapatkan pembayaran hutang, termasuk dengan intimidasi dan pelanggaran privasi.

Original: Suicide note slams online loans as Devil’s trap