Sebuah kapal penangkap ikan ilegal yang telah dicari oleh berbagai pihak berwenang internasional selama bertahun-tahun akhirnya ditangkap di dekat pulau Sumatra pada awal bulan.

‘Andrey Dolgov’ – kapal dengan berat 570 ton dan panjang 54 meter – ditangkap dekat Pulau Weh, di ujung utara Sumatera, tidak jauh dari Selat Malaka, oleh pihak berwenang Indonesia.

Beberapa orang perwira angkatan laut yang menaiki kapal tersebut menemukan seoran kapten Rusia dan lima orang perwira kapal asal Rusia dan Ukraina, serta 20 kru kapal asal Indonesia. Anggota kru kapal mengklaim bahwa mereka tidak tahu-menahu bahwa kapal tersebut beroperasi secara ilegal dan mereka pun diperlakukan layaknya korban perdagangan manusia yang ditipu untuk bekerja di kapal itu.

Sang kapten kapal asal Rusia bernama Aleksandr Matveev, yang ternyata sudah pernah dihukum sebelumnya juga karena tuduhan memancing ikan secara ilegal, akhirnya dijatuhi hukuman empat bulan penjara serta diperintahkan untuk membayar denda sebesar 200 juta rupiah, sementara kelima perwira kapal lainnya dideportasi kembali ke negara asal mereka.

Dibangun di Jepang pada tahun 1985, kapal tersebut telah memiliki banyak nama. Pemilik terakhir dari kapal itu merupakan seorang warga negara Rusia yang berbasis di Korea dan diyakini memiliki hubungan dengan tindak kejahatan terorganisir.

Kapal tersebut sekarang telah disita oleh pihak yang berwenang di Indonesia, yang dalam beberapa tahun belakangan ini telah mengambil langkah yang keras terhadap tindakan memancing secara ilegal di perairan nya.

Beberapa regu yang memonitor kegiatan memancing secara ilegal di perairan Indonesia mencurigai kapal “Dolgov” telah melakukan kegiatan ilegal tersebut di berbagai laut berbeda di seluruh dunia setidaknya selama 10 tahun belakangan ini.

Andrea Aditya Salim, salah seorang anggota unit yang ditugaskan menangkap kapal tersebut, berkata bahwa kru kapal bersikeras mereka tidak memancing secara ilegal dan mereka mengklaim bahwa mesin kapal serta peralatan memancing mereka sedang mengalami kerusakan.

Namun setelah dilakukan penggeledahan pada kapal tersebut, ditemukan sebanyak 600 jaring memancing sepanjang 30 kilometer – yang merupakan sebuah alat memancing yang dilarang berdasarkan Komisi Konservasi Sumber Daya Alam Laut Antartika.

Operasi penangkapan kapal yang telah menjadi target beberapa badan internasional semenjak beberapa tahun lalu tersebut dimulai di perairan sebelah timur benua Afrika beberapa minggu sebelumnya.

Kapal tersebut sebelumnya pernah disita di dataran Tiongkok dan Mozambik, namun kapal itu berhasil memenangkan perkara hukum di kedua negara tersebut. Pemilik kapal seringkali menggunakan celah dalam hukum kelautan dan pejabat korup untuk menghindari masalah.

Pemilik-pemilik sebelumnya dari kapal “Dolgov” telah dituduh melakukan pencucian uang dan kerja paksa, namun kegiatan ilegal ini terus dilakukan karena kabarnya itu merupakan bisnis yang menguntungkan.

Dalam satu dekade belakangan ini, kapal itu diduga telah menghasilkan sekitar 702 milyar rupiah dari kegiatan memancing secara ilegal. Namun teknologi yang moderen dan kerjasama internasional yang lebih kuat telah membuat lebih sukar bagi kapal-kapal semacam ini untuk terus beroperasi sebagaimana di masa lalu.

Dibawah kepemimpinan yang kuat dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, Indonesia telah menyita dan menghancurkan sebanyak 488 kapal memancing ikan ilegal selama lima tahun belakangan ini.

Dan Pudjiastuti baru-baru ini memutuskan untuk mengubah “Dolgov” menjadi bagian dari armada penegakan hukum perikanan nasional di Indonesia, dan itu berarti nama kapal tersebut pun akan diganti kembali.

Original: Notorious fishing vessel captured off Sumatra