Sebanyak lima orang pekerja rumah tangga asal Indonesia di Singapura, yang diduga telah menjadi pendukung radikal kekerasan dengan menggunakan senjata atas nama agama, telah dipulangkan ke tanah air antara bulan Juli 2017 sampai Juni 2018.

Yang terakhir dari antara kelima kasus tersebut terungkap ketika seorang pekerja rumah tangga, yang diduga telah menonton video-video kekerasan dan seringkali mendengarkan pengajaran-pengajaran dari para pendakwah ekstrimis, dilaporkan oleh sang majikan kepada departemen keamanan nasional Singapura, Independent Singapore melaporkan.

Majikan yang identitasnya tidak diungkapkan tersebut awalnya mulai memperhatikan perangai sang pembantu yang mulai berubah setelah melihat di media sosial gambar-gambar berbagai pria yang memakai tutup muka dan mengenakan pakaian tentara.

Pekerja tersebut juga dikabarkan telah menyatakan keinginannya untuk pergi ke zona-zona perang yang mengatasnamakan agama, serta dia percaya orang-orang yang tewas oleh karena perang tersebut telah mati syahid.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Singapura berkata tindakan cepat yang diambil oleh sang majikan dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib telah membantu “menetralisirkan potensi ancaman” terhadap Singapura.

Menurut investigasi yang dilakukan oleh kementerian tersebut, wanita Indonesia yang dimaksud didapati sebagai seorang pendukung kekerasan dengan menggunakan senjata yang megatasnamakan agama yang terjadi di Palestina, Myanmar dan Suriah. Dan yang bersangkutan juga didapati berkomunikasi aktif dengan orang-orang militan secara online.

Sementara itu, dalam empat kasus sebelumnya, seorang pekerja rumah tangga merupakan pendukung ISIS, sementara ketiga yang lainnya mendukung kekerasan dengan senjata di tempat-tempat konflik agama disekeliling dunia. Namun tidak satupun dari kelima WNI teradikalisasi ini yang telah memiliki rencana jelas untuk melakukan tindakan kekerasan di Singapura sebelum mereka dideportasi kembali ke Indonesia.

Original: Singapore deports ‘radicalized’ Indonesians