Sejumlah pekerja migran melakukan sebuah pertunjukan tari flash mob di Taipei, Taiwan pada hari Minggu, dengan pesan yang menuntut dihentikannya pelecehan seksual terhadap pekerja wanita, serta enam permintaan resmi untuk meningkatkan kondisi kerja wanita di negara pulau tersebut.

Flash mob dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu pertunjukan spontan.

Sekitar 135 pekerja asal Indonesia dan Filipina berkumpul di Stasiun Utama Taipei dan memberikan sebuah pertunjukan yang energik dengan tema “Rising for a Better System” (“Bangkit untuk Sistem yang Lebih Baik” dalam Bahasa Indonesia), yang mana mengikuti gerakan “One Billion Rising” yang dimulai oleh seorang feminis asal Amerika bernama Eve Ensler, Central News Agency melaporkan.

Gilda Banugan, kepala Migrante Taiwan, yang merupakan cabang dari Migrante International, berkata bahwa meskipun berbagai kampanye telah dilakukan setiap tahun nya, tetap belum ada kemajuan dalam peraturan atau lingkungan bagi pekerja migran perempuan di Taiwan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Para pekerja migran perempuan, khususnya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, menghadapi kerja ekstra setiap harinya, serta berbagai pelecehan secara fisik, verbal dan seksual, dengan tidak adanya tanda-tanda penurunan jumlah kasus-kasus demikian.

Banugan juga menyuarakan keenam tuntutan atas nama kelompoknya. Perawat rumah tangga harus diikutsertakan dibawah UU Standar Tenaga Kerja, dilindungi oleh asuransi tenaga kerja dan harus termasuk dalam sistem perawatan jangka panjang nasional. Mereka juga berhak mendapatkan cuti yang dibayar.

Pemerintah perlu meningkatkan usaha mereka dalam mengakhiri biaya-biaya ilegal yang dikenakan oleh agen-agen tenaga kerja, dan mengharuskan majikan untuk membayar lembur jika pekerja tidak diberi waktu bebas 24 jam penuh pada hari-hari libur.

Berkenaan dengan komentar kontroversi dari Walikota Kaohsiung Han Kuo-yu baru-baru ini, dimana dia di muka umum menyebut para pekerja asal Filipina dengan sebutan “para Maria”, Banugan menegaskan bahwa komentar yang tidak sopan tersebut telah membuat kesal banyak pekerja migran, yang telah menghabiskan masa muda dan waktu mereka bekerja di Taiwan, merawat orang tua, orang sakit, dan anggota keluarga warga Taiwan.

Original: Migrant flash mob decries abuse of women