Departemen Tenaga Kerja Hong Kong akan menerapkan sebuah mekanisme dini pelacakan korban di 10 kantor cabang yang tersebar di penjuru kota tersebut agar para pekerja rumah tangga asing yang berpotensi dieksploitasi atau dianiaya dapat diidentifikasi sejak dini.

Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana yang diterapkan pemerintah Hong Kong dalam memerangi perdagangan manusia dan meningkatkan perlindungan terhadap sekitar 390.000 pekerja rumah tangga asing di wilayah tersebut, demikian ungkap kepala sekretaris administrasi pemerintah Hong Kong, Matthew Cheung Kin-chung, dalam blog resmi nya.

Cheung berkata bahwa Departemen Tenaga Kerja juga akan menelusuri bersama dengan berbagai departemen pemerintah yang bersangkutan berbagai langkah yang dapat mendorong serta memfasilitasi para pekerja rumah tangga asing sebagai saksi dari penuntut, sekaligus meningkatkan publisitas dan pendidikan tentang hak dan manfaat sosial yang mereka miliki.

Sementara itu, Departemen Imigrasi Hong Kong secara terpisah akan membentuk sebuah tim untuk melakukan pemeriksaan awal atas permohonan visa yang diajukan oleh pekerja rumah tangga asing untuk mengidentifikasi potensi para pekerja tersebut menjadi korban perdagangan manusia atau adanya tanda-tanda eksploitasi tenaga kerja. Identifikasi awal akan membantu mulainya pemeriksaan kasus-kasus yang dicuragai sesegera mungkin.

Cheung berkata pemerintah Hong Kong telah menyediakan pendanaan berulang sebesar HK$62 juta (US$7,9 juta) dalam tahun keuangan yang baru untuk menciptakan posisi-posisi baru dalam upaya menerapkan rencana yang dimaksud.

Blog tersebut juga mengungkapkan ada lebih dari 7.500 pelacakan awal yang telah dilakukan pihak imigrasi, kepolisian dan departemen bea dan cukai pada tahun 2018, terhadap orang-orang berpotensi rentan, termasuk para imigran gelap, pekerja seks, pekerja ilegal, pekerja rumah tangga asing dan buruh migran lainnya. Jumlah tersebut merupakan tiga kali lipat dari jumlah yang didapati pada tahun 2016, yaitu sebanyak 2.500 pelacakan.

Lebih dari 110 sesi tanya jawab penuh dilakukan tahun lalu, hampir empat kali lebih banyak dibandingkan pada tahun 2017. Dari seluruh sesi tahun lalu, hanya 18 orang yang teridentifikasi benar-benar sebagai korban.

Jumlah tersebut, menurut Cheung, membuktikan bahwa perdagangan manusia bukanlah sesuatu yang lazim di kota itu.

Original: Victim screening of Hong Kong migrant workers