Setidaknya 225 petugas TPS dan 16 petugas kepolisian telah meninggal dunia karena kelelahan selama proses pemilu di Indonesia, berdasarkan informasi dari pihak yang berwenang.

Pihak berwenang mengeluarkan informasi mengenai jumlah korban tersebut pada 25 April, yang membuat masyarakat menuntut agar pileg dan pilpres tidak lagi diadakan secara serentak, Benar News melaporkan.

Salah seorang komisioner KPU, Evi Noida Ginting Manij, berkata bahwa jumlah korban tewas yang dimaksud tercatat lebih tinggi dibandingkan pemilu sebelumnya pada 2014 lalu, dimana kedua pemilu saat itu untuk presiden dan anggota legislatif diadakan dengan jarak tiga bulan. Sang komisioner menjelaskan bahwa kebanyakan korban meninggal karena kelelahan yang disebabkan oleh beban kerja yang berkelebihan.

Selain itu, sekitar 1.470 pekerja yang terlibat dalam pemilu kali ini juga dilaporkan telah jatuh sakit oleh karena banyaknya beban kerja tersebut.

Menurut KPU, lebih dari tujuh juta pelayan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia – termasuk pegawai pemerintah serta sukarelawan sipil – dilibatkan dalam pemilu kali ini, dan itu merupakan dua kali lipat jumlah petugas yang bekerja untuk pemilu sebelumnya.

KPU telah mengusulkan untuk memberi kompensasi kepada masing-masing keluarga korban sebesar 36 juta rupiah bagi keluarga korban yang meninggal, dan 30 juta rupiah bagi keluarga korban yang menjadi cacat permanen.

Original: Exhaustion kills hundreds during Indonesian elections