Sementara Presiden Joko Widodo mungkin telah mendapatkan mayoritas pemilih yang lebih besar jumlah nya dibandingkan pemilu 2014, pilpres pada 17 April kemarin tampaknya telah membuat perpecahan etnis dan agama di Indonesia semakin mencemaskan.

Inilah pula yang cukup menjelaskan mengapa capres Prabowo Subianto, yang berusia 67 tahun dan telah dipersiapkan menjadi presiden semenjak dini oleh keluarganya yang berdarah biru, bereaksi buruk ketika mengetahui kekalahannya di pilpres kedua yang diikutinya, dimana dia sudah terlebih dahulu yakin akan menang.

Lebih dari segalanya, pemungutan suara kali ini menunjukkan polarisasi yang lebih besar antara jantung Jawa dan minoritas Indonesia bagian timur, di satu sisi, serta antara kelompok Islam konservatif di pulau Jawa dan kelompok Islam moderat di daerah lainnya.

Widodo sekarang memiliki pekerjaan tambahan, yaitu mencoba untuk menyelesaikan masalah meningkatnya perpecahan etnis dan agama, yang tampaknya akan terus dimainkan bukan saja di DPR, dimana koalisi pengusungnya akan mendapatkan mayoritas yang lebih kecil, tetapi juga dalam masyarakat secara keseluruhan.

Prabowo tampak menang di 18 dari 34 provinsi di Indonesia, namun ketidak-beruntungannya terletak pada kenyataan bahwa banyak diantara ke-18 provinsi ini merupakan daerah yang berpopulasi rendah, dengan jumlah suara pemilih yang jauh dibawah jumlah pemilih di Jawa, yang merupakan pulau dengan populasi tertinggi di Indonesia.

Tentunya, tanpa suara pendukung nya di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 10-12 persen lebih banyak dari apa yang didapatnya di tiga provinsi ini pada pilpres 2014 lalu, Widodo mungkin akan kesusahan mendapatkan posisi di depan.

Sementara itu, sekalipun hasil perhitungan cepat menunjukkan Widodo menang dengan sekitar 55 persen suara, sementara lawan politik nya menerima 45 persen suara, Prabowo telah bersikeras bahwa telah terjadi kecurangan dalam perhitungan suara dan menegaskan bahwa survei yang dilakukan pihak nya menunjukkan dia mendapatkan jumlah suara sebanyak lebih dari 60 persen.

“Hei lembaga survei tukang bohong, kalian bisa bohongi penguin di Antartika,” ujar Prabowo minggu lalu.

Reaksi Prabowo bahkan sampai mendeklarasikan kemenangan nya secara dini, dimana sebelumnya telah diumumkan agar tidak ada pihak yang mendeklarasikan kemenangan sebelum KPU menyelesaikan perhitungan suara.

Beberapa orang dalam dan sumber lainnya berkata bahwa penolakan keras Prabowo untuk menerima kekalahan telah membuat perseteruan antara dirinya dan cawapres nya sendiri, Sandiaga Uni, 49, pada malam pemilu, dimana sang cawapres tidak muncul dalam dua konferensi pers yang dilakukan Prabowo, dengan alasan sedang cegukan.

Dengan tampak menunduk dan tidak tersenyum, Uno akhirnya bergabung dengan sang ketua partai Gerindra dalam acara pers yang ketiga, setelah beredar isu bahwa sang cawapres akan pergi ke Amerika minggu ini untuk menghindari keterlibatan dalam kekacauan pasca pemilihan yang dapat merusak citranya.

Prabowo telah salah perhitungan mengenai kekuatan dukungan yang diterima Widodo dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai imbalan baginya untuk beralih dari pasangan calon wakil presiden pilihannya, Mahfud MD, kepada Ma’ruf Amin, seorang ulama NU.

Gabungan antara dukungan dari partai penguasa sekaligus pengusung Widodo, PDI-P, serta ulama-ulama dan pesantren-pesantren NU yang berpengaruh, telah memainkan peranan penting dalam memberikan sang presiden petahana jumlah suara sebesar 77 persen di Jawa Tengah dan 67 persen di Jawa Timur.

Berdasarkan jajak pendapat, pengikut NU yang mendukung Widodo meningkat dalam pemilu ini sampai 56 persen, dibandingkan pada tahun 2014, yaitu sebesar 42 persen, dimana saat itu NU yang memiliki sekitar 45 juta anggota memberikan dukungan lebih kepada Prabowo, khususnya di Jawa Timur.

Original: Indonesia election exposes ethnic, religious divides