Sebuah karya dokumenter baru yang menunjukkan hubungan antara perusahaan-perusahaan batubara dan energi di Indonesia dengan para elit politik di negara tersebut telah dirilis secara online sebelum pemilu tahun ini.

Rumah produksi WatchDoc Image mengunggah “Sexy Killers” (yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Pembunuh-pembunuh seksi”) ke YouTube pada 14 April lalu, setelah sebelumnya menayangkan film dokumenter tersebut di lebih dari 470 lokasi di Indonesia.

Film berdurasi 86 menit itu merupakan bagian terakhir dari 12 seri dokumenter yang mengikuti dua orang jurnalis bernama Dandhy Laksono dan Ucok Suparta dalam perjalanan mereka ke 20 provinsi sejak 2015 untuk menginvestigasi masalah-masalah lingkungan hidup.

“Sexy Killers” dimulai dengan cuplikan sebuah ledakan di sebuah tambang batubara di Pulau Kalimantan. Batubara yang ditunjukkan dalam awal film tersebut ditujukan untuk pembangkit listrik yang dipakai untuk pulau-pulau lain, khususnya Jawa dan Bali.

Namun kerusakan lingkungan, keuangan dan sosial yang ditimbulkan oleh tambang-tambang tersebut, yang juga digambarkan dalam film tersebut, dirasakan oleh penduduk setempat, termasuk keluarga dari anak-anak yang tenggelam di lubang-lubang yang ditinggalkan oleh perusahaan pertambangan dan terisi air hujan. Jumlah korban anak tenggelam ini pun terus meningkat.

Hutan menjadi rata, lautan tercemar

Film tersebut juga menunjukkan bagaimana perusahaan-perusahaan itu, dengan dukungan dari pemerintah daerah dan pusat, seringkali mengambil-alih tanah rakyat dan menghancurkan hutan Kalimantan yang subur dalam upaya mereka mendapatkan lebih banyak batubara.

Dandhy dan Ucok kemudian mengikuti perjalanan batubara tersebut di kapal tongkang yang mengangkutnya dari Pulau Kalimantan ke lokasi lain, yang seringkali didapati memasuki kawasan pelestarian alam seperti Taman Nasional Karimunjawa di lepas pantai utara Jawa. Disini, kapal-kapal tongkang tersebut merusak terumbu karang dan mencemari ekosistem laut.

Masyarakat yang tinggal dekat pembangkit-pembangkit listrik besar di Jawa dan Bali juga harus membayar harga, dimana film dokumenter yang dimaksud juga menunjukkan bagaimana banyak diantara mereka yang terusir dan harus pindah untuk menyediakan lahan bagi pembangkit-pembangkit listrik, sementara yang menolak untuk pindah dari lokasi tersebut harus hidup dengan polusi dari pembakaran batubara.

Povinsi Kalimantan Timur merupakan jantung dari industri batubara di Indonesia, yang mengirim keluar pulau sebanyak lebih dari 200 juta ton bahan bakar fosil tersebut pada tahun 2011. Apabila dibayangkan sebagai sebuah negara, maka Kalimantan Timur dapat menjadi negara produsen batubara terbesar kedelapan di dunia.

Skala sebesar ini tentunya telah memiliki berbagai dampak yang tidak bisa dihindari di provinsi tersebut: Sungai Mahakam, tempat sebagian besar limbah tambang mengalir dan yang juga berfungsi sebagai jalan raya untuk lalu lintas tetap kapal-kapal tongkang, telah mengalami polusi yang meluas. Sungai ini adalah sumber kehidupan hutan hujan tropis di kawasan ini dan merupakan tempat tinggal bagi 147 spesies ikan air tawar.

Di darat, penggundulan hutan dan penggalian yang terkait dengan penambangan batubara telah secara dramatis meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor. Antara 2010 dan 2012, kota Samarinda, ibukota provinsi Kalimantan Timur, mencatat banjir sebanyak 218 kali dan sekarang kota itu disebut sebagai “Kota Banjir”.

Pada akhirnya, karya dokumenter tersebut merinci hubungan antara perusahaan pertambangan dan beberapa pejabat paling senior di pemerintahan, termasuk beberapa orang yang mencalonkan diri untuk jabatan tertinggi dalam pemilu 17 April kemarin.

Original: Film exposes Indonesia’s coal industry abuses